SURAKARTA – Seorang mahasiswi Universitas Sebelas Maret (UNS) berinisial DA (22), asal Temanggung, Jawa Tengah, diduga mengakhiri hidupnya dengan melompat ke Sungai Bengawan Solo, pada Selasa (1/7/2025). Identitas korban telah dikonfirmasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Surakarta.
“Identitas korban sudah diketahui. Informasi yang diterima dari UNS,” ujar Haryana, Koordinator Lapangan BPBD Surakarta.
DA merupakan mahasiswa Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) angkatan 2021. Sebelum kejadian, ia meninggalkan sepeda motor dan sebuah surat wasiat di lokasi.
Aksi DA sempat disaksikan oleh seorang pengemudi ojek online yang sedang melintas di Jembatan Jurug. Dalam video yang beredar di TikTok, pengemudi tersebut menceritakan detik-detik kejadian.
“Saya pas bawa customer dari Palur. Di tengah jembatan, lima meter di depan saya, ada perempuan sudah berdiri di tuas jembatan mau ancang-ancang lompat,” ujarnya, dilansir dari Kompas.
Meski sempat berteriak untuk mencegah, korban sudah lebih dulu melompat ke sungai.
“Saya teriakin ‘Mbak’ tapi sudah tidak bisa, sudah terjun. Setelah saya hentikan motor, costumer juga turun. Saya tengok (korban) sudah tidak ada,” jelasnya.
BPBD menduga kuat bahwa DA melakukan bunuh diri, mengingat ditemukannya sepeda motor dan catatan harian di lokasi kejadian.
Isi Surat Wasiat:
Surat wasiat yang ditulis tangan dengan bolpoin hitam ditemukan di buku catatan kecil milik DA. Dalam surat tersebut, ia menyampaikan permintaan maaf kepada ibunya dan dosennya, Dr. Sumardiyono, S.KM., M.Kes.
“Aku pergi ya, jangan salahkan keluarga atau tempat instansi aku kuliah. Aku hanya bermasalah dengan diriku sendiri,” tulis DA.
Ia juga mengungkapkan kelelahan mental yang dialaminya.
“Terkadang, aku bukan diriku. Aku capek.”
“Maaf untuk Bapak Dr. Sumardiyono, S.Km karena telah menghianati dan berjanji untuk bertahan. Tak masalah semua orang bilang yang lain bipolar juga bisa, aku nggak… Aku capek, Bu. Maaf aku tak sekuat ibu,” lanjutnya.
Kondisi Psikologis dan Respons Kampus:
Menurut Tribunnews.com, Dr. Sumardiyono merupakan dosen pembimbing akademik dan skripsi DA, sekaligus menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Sekolah Vokasi UNS. Ia dan Kepala Program Studi D4 K3 telah mengetahui kondisi kejiwaan DA, yang disebut dalam pengawasan psikiater.
Sumardiyono diketahui memberikan dukungan moral dan kemudahan dalam penyusunan skripsi. Ia bahkan pernah mengajukan surat resmi kepada keluarga agar DA beristirahat selama tiga bulan, namun ditolak.
“Mahasiswi tersebut memberikan respon penolakan dengan alasan tidak ingin dikasihani,” ungkap Juru Bicara UNS, Prof. Dr. Agus Riwanto.
Pakar Psikologi UNS, Dr. Farida Hidayati, menilai bahwa tindakan DA didorong oleh ketidakmampuan dalam mengelola emosi.
“Memang salah satu penyebab adalah ketidakmampuan melakukan regulasi emosi. Sebenarnya banyak peran dari lingkungan,” ujarnya.
Proses Pencarian Masih Berlangsung:
Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian terhadap DA masih dilakukan. Relawan dan tim BPBD Kabupaten Karanganyar turut dikerahkan untuk menyisir area Sungai Bengawan Solo.