Seorang profesor dari Hong Kong University (HKU), Paul Yip Siu-fai, mengundurkan diri dari jabatannya setelah sebuah artikel ilmiah yang ia tulis bersama mahasiswa doktoralnya terbukti memuat referensi fiktif hasil bantuan kecerdasan buatan (AI).
Kasus ini mencuat setelah HKU melakukan penelusuran internal terhadap makalah tersebut. Hasilnya, universitas menemukan sejumlah rujukan yang merujuk pada publikasi yang tidak pernah ada dan dihasilkan oleh AI. Temuan ini memicu penyelidikan resmi, hingga akhirnya artikel tersebut ditarik oleh penerbit jurnal.
HKU—yang menempati peringkat ke-11 dunia dalam QS World University Rankings 2026—mengonfirmasi pada Rabu (17/12/2025) bahwa sedikitnya 20 dari 61 referensi dalam artikel tersebut bersifat fiktif. Makalah itu ditulis bersama mahasiswa doktoral Bai Yiming dan berjudul “Forty Years of Fertility Transition in Hong Kong”, yang dipublikasikan pada 17 Oktober, dengan Yip tercantum sebagai penulis korespondensi.
Permintaan Maaf dan Pengunduran Diri
Dalam pernyataannya, Yip menyampaikan permintaan maaf atas nama dirinya dan Bai. Ia menjelaskan bahwa penulis utama menggunakan AI untuk membantu penyusunan referensi, namun gagal melakukan verifikasi terhadap sumber-sumber tersebut. Yip mengaku baru mengetahui persoalan itu setelah tudingan beredar luas di dunia maya.
Akibat kasus ini, Yip mengundurkan diri dari jabatannya sebagai wakil dekan Fakultas Ilmu Sosial, serta menarik diri dari berbagai komite riset di tingkat fakultas dan universitas. Informasi tersebut dilaporkan oleh South China Morning Post.
Sementara itu, Springer Nature, penerbit jurnal tempat artikel tersebut dimuat, menerbitkan catatan penarikan daring pada awal pekan ini. Dalam catatannya, Springer Nature mengakui bahwa kantor editorial luput memverifikasi keabsahan referensi yang tercantum dalam makalah tersebut.
HKU Perketat Integritas Akademik
Menanggapi kasus tersebut, HKU menyatakan akan memperketat kebijakan integritas akademik, khususnya terkait penggunaan AI dalam penelitian. Universitas akan memberlakukan pelatihan dan asesmen wajib bagi seluruh peneliti guna memastikan kepatuhan terhadap standar etika akademik.
“HKU menegaskan kembali komitmennya terhadap standar akademik dan penelitian yang ketat,” ujar pihak universitas.”
“Seluruh peneliti diwajibkan memastikan bahwa karya mereka memenuhi tolok ukur internasional terkait kualitas ilmiah dan perilaku etis,” tambahnya.