MEXICO CITY – Pemerintah Meksiko secara resmi menghentikan pengiriman minyak ke Kuba guna menghindari ancaman tarif dari administrasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Keputusan ini diumumkan Presiden Claudia Sheinbaum pada Senin. Ia mengecam kebijakan AS tersebut sebagai bentuk ketidakadilan yang mengancam kesejahteraan rakyat Kuba di tengah krisis ekonomi yang parah.
Sheinbaum menekankan dampak buruk sanksi itu dalam konferensi pers rutinnya. “Sanksi yang dikenakan terhadap negara-negara yang menjual minyak ke Kuba sangat tidak adil. Sanksi yang merugikan rakyat tidak dapat dibenarkan,” ujarnya. Ia menambahkan, “Anda tidak bisa mencekik sebuah bangsa seperti ini. Ini sangat tidak adil.”
Langkah penghentian ekspor ini membuat Kuba kehilangan salah satu sumber pasokan energi terakhir yang signifikan. Sebelumnya, negara kepulauan Karibia tersebut bergantung pada pasokan minyak dari Venezuela sebesar 26.500 barel per hari, atau sekitar setengah dari total impornya. Namun, aliran tersebut terhenti setelah operasi militer Amerika Serikat menangkap mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada 3 Januari lalu.
Meksiko kemudian menggantikan peran tersebut dengan memasok sekitar 12.000 barel minyak per hari, yang menyumbang sekitar 44 persen dari total impor minyak mentah Kuba sepanjang 2025.
Ancaman tarif AS berawal dari perintah eksekutif yang ditandatangani Presiden Trump pada 29 Januari. Perintah tersebut menyebut Kuba sebagai “ancaman luar biasa dan tidak biasa” bagi keamanan nasional Amerika Serikat. Aturan yang berlaku sejak 30 Januari itu memberi kewenangan kepada Menteri Perdagangan dan Menteri Luar Negeri AS untuk menjatuhkan denda terhadap negara-negara pemasok minyak ke Havana, tanpa merinci besaran sanksi yang akan dikenakan.
Perusahaan minyak negara Meksiko, Petróleos Mexicanos (Pemex), telah menjalin kontrak komersial dengan Kuba sejak 2023. Sepanjang tahun lalu, Pemex mengekspor minyak mentah dan produk turunannya senilai sekitar 496 juta dolar AS. Pengiriman terakhir tercatat tiba di Pelabuhan Havana pada 9 Januari, sebagaimana disampaikan CEO Pemex, Víctor Rodríguez.
Meski menghentikan ekspor minyak, Meksiko tetap menunjukkan solidaritas melalui bantuan kemanusiaan. Dua kapal angkatan laut, Papaloapan dan Isla Holbox, berlayar dari Veracruz pada Minggu lalu dengan membawa lebih dari 814 ton bantuan, termasuk bahan makanan pokok, susu bubuk, dan perlengkapan kebersihan. Pengiriman tersebut diperkirakan tiba dalam waktu empat hari.
Sheinbaum menegaskan komitmen pemerintahnya untuk mencari solusi diplomatik dengan Washington agar ekspor minyak dapat kembali dilanjutkan. “Kami akan terus mendukung Kuba dan mengambil semua langkah diplomatik yang diperlukan untuk memulihkan pengiriman minyak,” katanya.
Sementara itu, Kuba kian terpuruk dalam krisis energi terparah dalam satu dekade terakhir. Menurut laporan Bloomberg, negara tersebut mencatat bulan pertama tanpa impor minyak signifikan setelah bertahun-tahun bergantung pada pasokan luar negeri. Pemadaman listrik berskala nasional semakin sering terjadi sejak akhir 2024.
Perusahaan listrik nasional, Unión Eléctrica de Cuba, hanya mampu memenuhi sekitar separuh kebutuhan listrik nasional sepanjang tahun lalu. Wilayah timur Kuba juga baru saja mengalami pemadaman luas pada pekan lalu sebelum sistem kelistrikan kembali pulih.
Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menyebut situasi tersebut sebagai “rumit” dan menuding kebijakan Amerika Serikat bersifat “agresif dan kriminal” karena berdampak luas pada sektor transportasi, kesehatan, pendidikan, serta produksi pangan.
