JAKARTA – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengkampanyekan pendidikan yang bermutu, inklusif, dan berlandaskan pada nilai karakter sebagai fondasi utama dalam membangun peradaban yang damai dan berkelanjutan. Hal ini ia sampaikan dalam pertemuan G20 Interfaith Forum (IF20), yang berlangsung pada 10-14 Agustus 2025 di Cape Town, Afrika Selatan.
Mu’ti menegaskan bahwa pendidikan adalah sarana paling efektif untuk membangun peradaban yang berkelanjutan, dengan menekankan pentingnya kemampuan etika, moral, dan karakter dalam proses pembelajaran. “Tidak ada seorang pun, terutama anak-anak, yang boleh tertinggal dari pendidikan hanya karena faktor ekonomi, geografis, kondisi fisik, gender, etnis, ras, atau agama,” tegas Mu’ti dalam pernyataan tertulis di Jakarta pada Rabu (13/8/2025).
Menurutnya, literasi lintas budaya dan agama sangat penting dalam membentuk karakter yang menjunjung pluralisme, toleransi, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Mu’ti menambahkan bahwa karakter tidak terbentuk dalam semalam, tetapi melalui pembiasaan perilaku baik yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai respons terhadap perkembangan zaman, Mu’ti menjelaskan bahwa Kemendikdasmen telah meluncurkan dua program utama untuk membentuk karakter anak-anak Indonesia, salah satunya adalah Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Gerakan ini mencakup kebiasaan bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat, giat belajar, aktif bermasyarakat, dan tidur tepat waktu.
Selain itu, Mu’ti menekankan pentingnya penguatan peran guru, yang tidak hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai pembimbing dalam mendukung potensi anak-anak. “Setiap guru menjadi ‘orang tua kedua’ bagi siswa, membimbing potensi mereka untuk tumbuh menjadi generasi unggul,” tambahnya.
Mu’ti juga membahas tentang penerapan pendekatan pembelajaran mendalam di sekolah-sekolah Indonesia. Menurutnya, pembelajaran mendalam mengajak anak-anak untuk tidak hanya mengetahui, tetapi juga memahami pelajaran secara lebih mendalam dan holistik, dengan menekankan tiga aspek utama: joyful, meaningful, dan mindful.
Dalam kesempatan tersebut, Mu’ti mengajak seluruh pihak untuk berkolaborasi dalam menghadapi tantangan global. Ia menegaskan bahwa perubahan besar dimulai dengan langkah kecil yang konsisten, didukung oleh sekolah, keluarga, komunitas, dan media.
“Melalui persatuan lintas budaya dan lintas iman, kita dapat membentuk generasi muda yang tidak hanya berilmu, tetapi juga bijaksana dalam kehidupan sosial. Pendidikan yang inklusif adalah kunci membangun bangsa yang tangguh dan berkarakter,” ujarnya.
Forum G20 Interfaith (IF20) bertujuan mempromosikan dialog antar-agama dan kerja sama internasional untuk merumuskan rekomendasi kebijakan tingkat G20. Tahun ini, forum mengangkat tema “Ubuntu in Action: Focus on Vulnerable Communities”, yang menyoroti pentingnya memperhatikan kelompok-kelompok rentan dalam masyarakat global.