Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara terbuka mengakui adanya jurang pemisah antara regulasi insentif pemerintah dengan fakta implementasi di lapangan. Dalam forum Bloomberg Technoz Economic Outlook 2026, Kamis (12/2), ia menyoroti ketimpangan antara laporan internal birokrasi yang terlihat sempurna dengan keluhan nyata dari para pelaku usaha.
Kesenjangan Regulasi vs Realita
Purbaya mengungkapkan bahwa secara administratif, seluruh insentif—termasuk untuk impor bahan baku—diklaim telah berjalan dengan baik oleh jajaran kementerian. Namun, ia tidak menutup mata terhadap keluhan pengusaha yang merasa kesulitan mengakses hak-hak tersebut.
“Kalau saya bilang, kalau di peraturan, kalau saya tanya anak buah saya di keuangan, semuanya bagus Pak, enggak ada masalah. Kementerian lain juga semuanya sudah dikasih, ada enggak insentif untuk impor barang-barang bahan baku? Sudah Pak, semuanya sudah ada. Tapi kenyataannya pengusaha masih mengeluh. Artinya di lapangan beda dengan yang di atas kertas,” ujar Purbaya sebagaimana dilaporkan Bloomberg Technoz.
Solusi Konkret: Task Force Debottlenecking
Guna mengurai hambatan tersebut, pemerintah resmi membentuk Task Force Debottlenecking. Satuan tugas ini menjadi wadah bagi pelaku usaha untuk melaporkan kendala investasi secara daring, yang kemudian akan dibahas dalam sidang mingguan untuk segera dicarikan solusinya.
Purbaya mematok target ambisius: dalam satu tahun, mayoritas hambatan iklim bisnis di Indonesia harus dihilangkan untuk mendongkrak kepercayaan investor. Ia menekankan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah memperkuat fundamental ekonomi melalui kemudahan berusaha, mengingat sentimen pasar keuangan jangka pendek memang sulit dikendalikan secara langsung.
Sindir Moody’s dan Optimisme 6%
Dalam forum yang sama, Menkeu memberikan kritik tajam kepada lembaga pemeringkat internasional, Moody’s. Ia menilai keputusan Moody’s menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif adalah langkah yang “offside” karena mendahului rilis data resmi pertumbuhan ekonomi.
“Mereka mengeluarkan outlook negatif karena menganggap pertumbuhan kita melambat. Padahal kenyataannya pertumbuhan kita lebih tinggi. IMF dan JP Morgan bahkan menaikkan prediksi mereka untuk kita dari 4,9% ke 5,2%,” tegasnya.
Sebagai catatan, ekonomi Indonesia berhasil tumbuh 5,11% sepanjang 2025 dengan lonjakan signifikan 5,39% pada kuartal IV tahun lalu. Berangkat dari tren positif tersebut, Purbaya optimistis perekonomian Indonesia mampu melesat hingga ke angka 6% pada tahun 2026.
