JAKARTA – Menteri Keuangan Suahasil Nazara meminta kementerian dan lembaga terkait memperketat pengawasan harga pangan menyusul kenaikan sejumlah komoditas yang berpotensi mendorong inflasi.
Peringatan tersebut disampaikan Suahasil dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Jumat, 9 Oktober 2026, dengan mempertimbangkan ancaman El Niño yang berisiko mengganggu produksi pangan.
“Kita mewaspadai inflasi komponen volatile food (harga pangan yang mudah bergejolak), karena kita akan menuju El-Nino atau kekeringan.”
“Sehingga nanti dampaknya di harga pangan akan kelihatan,” kata Menkeu Suahasil dalam keterangan pers APBN Kita di Jakarta, Jumat, 9 Oktober 2026.
Sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga meliputi cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, telur ayam ras, dan beras.
Kenaikan harga tersebut dipengaruhi keterbatasan pasokan akibat penurunan produksi di sejumlah daerah sentra pangan.
Gangguan cuaca dan meningkatnya biaya input produksi turut menekan kemampuan produsen memenuhi kebutuhan pasar.
“Kita minta nanti seluruh institusi yang terkait, kenaikan harga ini diperhatikan dengan sangat seksama,” ucap Menkeu Suahasil.
Suahasil juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara produksi dan kebutuhan pangan domestik agar pasokan tetap mencukupi.
“Kalau bisa jangan sampai ada kekurangan dan jangan sampai meningkatkan inflasi yang tidak perlu,” ujar Menkeu.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan, inflasi kelompok pangan bergejolak atau volatile food meningkat menjadi 5,03 persen secara tahunan.
Sementara itu, inflasi kelompok harga yang diatur pemerintah atau administered prices relatif stabil pada level 3,25 persen.
Suahasil menjelaskan stabilitas kelompok tersebut didukung penetapan harga oleh pemerintah serta keberadaan berbagai barang bersubsidi.
Bensin dan solar nonsubsidi menjadi komoditas yang berkontribusi terhadap inflasi kelompok harga yang diatur pemerintah, sedangkan tarif angkutan udara mengalami penurunan.
Di sisi lain, inflasi inti pada September 2026 tercatat turun menjadi 2,84 persen dari 2,92 persen pada Agustus 2026.
Penurunan inflasi inti tersebut antara lain didukung tren penurunan harga emas sejak Maret 2026.
Perkembangan ini menunjukkan tekanan harga antarkelompok komoditas bergerak berbeda, sehingga pengendalian inflasi pangan menjadi perhatian penting menjelang potensi kekeringan akibat El Niño.
Pemerintah perlu mencermati ketersediaan stok, kelancaran distribusi, dan perkembangan harga di daerah sentra maupun pasar konsumen untuk mencegah kenaikan harga yang berlebihan.***