SURABAYA – Menteri Koperasi Ferry Juliantono menguraikan rancangan besar Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih) yang ditargetkan menjadi simpul ekonomi desa dengan struktur usaha yang lebih modern dan terintegrasi.
Hal tersebut diungkapkan Ferry dalam acara ‘Indonesia Punya Kamu 2025’ di Universitas Airlangga Surabaya, Senin (24/11/2025),
Ferry menjelaskan bahwa koperasi desa dirancang menghadirkan berbagai unit usaha yang berfungsi layaknya pusat layanan terpadu, mulai dari gerai sembako berbasis retail modern hingga fasilitas lain yang selama ini sulit dijangkau masyarakat desa.
Dalam skema tersebut, koperasi turut menyediakan apotek dan klinik desa sebagai solusi atas lemahnya akses obat dan layanan kesehatan di wilayah pedesaan.
“Di desa karena tidak ada obat dan tidak ada fasilitas kesehatan, banyak masyarakat desa yang tidak terlayani oleh BPJS Kesehatan,” tutur Ferry.
Ia menambahkan bahwa koperasi akan diperkuat dengan layanan simpan pinjam untuk memberi alternatif pembiayaan yang lebih terjangkau bagi warga desa.
Ferry mengungkapkan bahwa fasilitas gudang modern lengkap dengan pengering gabah, pendingin hasil tani, hingga penyimpanan hasil laut juga menjadi bagian penting dalam pembangunan ekosistem koperasi desa.
Ia menyoroti kendala yang selama ini dihadapi nelayan seperti kelangkaan solar dan keterbatasan es batu yang membuat produktivitas melaut tidak maksimal.
Melalui koperasi, desa nelayan akan memiliki stasiun pengisian solar dan pabrik es batu sebagai penopang operasi harian para nelayan.
Ferry turut menekankan bahwa unit usaha kerajinan, kuliner, dan pariwisata desa akan diperkuat agar kualitas produk dan jalur pemasarannya lebih jelas, terukur, dan mudah dijangkau.
“Setiap koperasi desa-kelurahan akan dilengkapi dengan kendaraan-kendaraan operasional untuk memperlancar arus barang dari desa keluar maupun dari luar menuju ke desa,” lanjut Ferry.
Ferry menegaskan bahwa seluruh rancangan tersebut disiapkan untuk membangun desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang kuat, mandiri dan berkelanjutan.
Ia menutup penjelasan dengan menegaskan bahwa keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada keterlibatan mahasiswa, masyarakat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan.***