JAKARTA – Keheningan Salat Jumat di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, berubah menjadi kepanikan usai suara ledakan terdengar pada Jumat (7/11/2025).
Di tengah kekacauan itu, aparat menemukan senjata laras panjang jenis SS1 dengan tulisan menyeramkan: “Welcome to Hell”.
Senjata yang ditemukan di lokasi ledakan tersebut bukan hanya menimbulkan rasa takut, tetapi juga kebingungan.
Di tubuh senjata itu tertera tiga nama: Brenton Tarrant, Alexandre Bissonnette, dan Luca Traini — sosok-sosok yang dikenal dunia sebagai pelaku teror beraliran Neo-Nazi.
Ketiga nama itu seakan menjadi simbol gelap dari tragedi yang pernah mengguncang tiga negara berbeda.
Polisi kini mendalami alasan mengapa pelaku memilih menuliskan identitas tiga teroris lintas benua di senjata yang ditinggalkan di sekolah negeri tersebut.
Brenton Tarrant, pria kelahiran Australia berusia 28 tahun, adalah pelaku dua penembakan brutal di Christchurch, Selandia Baru, pada 15 Maret 2019.
Ia menyerang dua masjid saat Salat Jumat berlangsung, menewaskan 51 orang dan melukai 89 lainnya. Serangan itu mengguncang dunia dan menjadi simbol kebencian ekstrem berbasis ideologi supremasi kulit putih.
Sementara itu, Luca Traini berasal dari Italia dan dikenal sebagai pelaku penembakan di Macerata pada 3 Februari 2018.
Dalam aksinya, pria berusia 28 tahun itu menargetkan enam imigran Afrika dengan senapan sambil mengendarai mobil Alfa Romeo.
Setelah melakukan serangan, Traini mengenakan bendera Italia di bahunya dan memberi hormat ala fasis di depan publik.
Nama ketiga, Alexandre Bissonnette, adalah pelaku penembakan di Pusat Kebudayaan Islam Quebec, Kanada, pada 29 Januari 2017.
Dalam serangan berdarah yang terjadi setelah salat magrib itu, enam jamaah meninggal dunia dan lima lainnya luka berat.
Aksinya mengejutkan Kanada dan memicu gelombang solidaritas lintas agama di seluruh dunia.
Kini, Polda Metro Jaya tengah mengusut tuntas kasus yang mengguncang SMAN 72 Jakarta ini.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menyatakan pihaknya masih mendalami asal muasal senjata dan penyebab ledakan.
“Itu yang kita mau dalami. Lagi sisir juga sama Gegana karena ledakan itu kan ada SOP khusus. Jangan sampai kita olah TKP, ada ledakan susulan. Kan belum tahu asal muasal ledakan itu karena apa,” ujarnya.
Akses jalan menuju SMAN 72 telah ditutup total, sementara tim Gegana terus menyisir area sekitar Jalan Prihatin, Kelapa Gading, demi memastikan tidak ada ancaman lanjutan.
Hingga kini, aparat belum memastikan apakah peristiwa ini memiliki kaitan langsung dengan ideologi ekstremis global atau hanya bentuk provokasi simbolik.
Insiden ini membuka babak baru penyelidikan terhadap potensi penyebaran ideologi kekerasan di ruang pendidikan.
Masyarakat kini menunggu jawaban atas satu pertanyaan besar: mengapa nama-nama pelaku teror dunia tiba-tiba muncul di senjata yang ditemukan di sekolah negeri di Jakarta?***