JAKARTA – Otoritas Nepal resmi menghapus skema deposit sampah bagi pendaki Gunung Everest setelah aturan tersebut dinilai gagal menjaga kebersihan puncak tertinggi dunia. Selama 11 tahun penerapan, kebijakan ini yang mewajibkan pendaki membawa turun minimal 8 kilogram sampah demi mengklaim kembali uang jaminan sebesar US$4.000 (sekitar Rp61 juta) tidak memberikan hasil signifikan.
Direktur Departemen Pariwisata Nepal, Himal Gautam, menyebut skema lama justru menambah beban administrasi tanpa menyelesaikan masalah. Faktanya, sekitar 50 ton sampah masih menumpuk di kawasan Everest.
“Masalah sampah tidak kunjung hilang. Sementara skema deposit justru menjadi beban administratif,” kata Himal Gautam, dilansir BBC, Selasa (30/12/2025).
Pejabat kementerian pariwisata mengungkapkan sebagian besar uang jaminan selama bertahun-tahun selalu dikembalikan, seolah pendaki telah memenuhi kewajiban. Namun, kenyataannya sampah tetap menumpuk di kamp-kamp tinggi.
Tshering Sherpa, CEO Komite Pengendalian Polusi Sagarmatha, menilai pendaki hanya membawa turun botol oksigen kosong, sementara tenda, kaleng, dan kotak makanan banyak ditinggalkan.
“Hal-hal lain seperti tenda, kaleng, serta kotak makanan dan minuman kemasan sebagian besar ditinggalkan di sana. Itulah sebabnya kita melihat begitu banyak sampah menumpuk,” ujarnya.
Rata-rata, seorang pendaki menghasilkan sekitar 12 kilogram sampah selama enam minggu pendakian. Minimnya pengawasan juga memperburuk kondisi.
“Selain pos pemeriksaan di atas Air Terjun Es Khumbu, tidak ada pemantauan terhadap apa yang dilakukan pendaki,” tambah Tshering.
Sebagai solusi, pemerintah Nepal akan menerapkan biaya pembersihan non-refundable sebesar US$4.000 per pendaki. Dana ini akan digunakan untuk membangun pos pemeriksaan di Camp Dua serta menugaskan petugas hutan gunung (mountain rangers) hingga ke area puncak.
Mingma Sherpa, ketua kotamadya pedesaan Pasang Lhamu, menyambut baik kebijakan baru tersebut.
“Kami telah mempertanyakan efektivitas skema deposit selama ini karena kami tidak tahu ada orang yang pernah dihukum karena tidak membawa sampah mereka turun. Kini, biaya non-refund ini akan menciptakan dana yang memungkinkan kami melakukan semua pekerjaan pembersihan dan pemantauan,” katanya.
Langkah ini menjadi bagian dari rencana aksi pembersihan gunung selama lima tahun untuk menjaga keberlanjutan pendakian Everest. Saat ini, jumlah pendaki rata-rata mencapai 400 orang per tahun, ditambah ratusan staf pendukung.