JAKARTA – Insiden lemparan flare yang menimpa kiper Timnas Indonesia, Emil Audero, dalam laga Serie A antara Cremonese dan Inter Milan langsung memicu gelombang kemarahan dari publik Indonesia.
Peristiwa itu terjadi di Stadio Giovanni Zini, Minggu (1/2/2026), saat pertandingan memasuki awal babak kedua. Sebuah flare yang dilempar dari tribun suporter Inter Milan meledak di dekat Audero di area penalti Cremonese. Ledakan tersebut membuat pertandingan sempat dihentikan karena asap tebal menyelimuti lapangan.
Audero terlihat terjatuh sambil memegangi telinga kanannya. Ia juga mengalami luka sobek kecil di kaki kanan serta luka bakar ringan akibat serpihan ledakan. Meski sempat mengalami gangguan pendengaran sementara, kiper kelahiran Mataram itu tetap melanjutkan pertandingan hingga selesai.
Namun, bukan hanya insiden di lapangan yang jadi sorotan. Reaksi keras justru datang dari Tanah Air. Nama Emil Audero langsung menjadi perbincangan hangat di media sosial, dengan ribuan netizen Indonesia menyerbu kolom komentar akun resmi Inter Milan.
Banyak yang mengecam keras tindakan suporter yang melempar flare, menilai aksi tersebut membahayakan nyawa pemain. Tak sedikit pula yang menuntut Inter Milan bertanggung jawab atas keselamatan mantan kipernya itu.
Beberapa komentar warganet yang viral antara lain:
“Berani sama Emil Audero, mau ngajak ribut atau gimana?”
“Ngajak ribut dasar El Petasan.”
“Kalau Emil sampai kenapa-kenapa, harus tanggung jawab!”
“Ini bukan fanatik, ini kriminal.”
Amarah netizen Indonesia makin memuncak setelah beredar laporan bahwa insiden kedua terjadi tak lama kemudian, ketika flare lain justru meledak di tangan pelaku di tribun. Peristiwa itu disebut menyebabkan pelaku mengalami luka parah. Meski begitu, publik Indonesia menilai hal tersebut tidak mengurangi keseriusan ancaman yang sudah membahayakan Audero di lapangan.
Bagi banyak suporter Indonesia, insiden ini terasa personal. Audero bukan sekadar pemain klub Eropa, tetapi juga bagian dari Timnas Indonesia. Karena itu, serangan terhadapnya dianggap sebagai serangan terhadap kebanggaan sepak bola nasional.
Di tengah kontroversi tersebut, Inter Milan memang menang 2-0 dan memperlebar jarak di puncak klasemen Serie A. Namun di mata netizen Indonesia, kemenangan itu tak ada artinya dibanding keselamatan seorang pemain yang nyaris menjadi korban aksi brutal di stadion.
Insiden ini kembali memunculkan desakan agar otoritas sepak bola Italia menjatuhkan sanksi tegas, sekaligus menjadi pengingat bahwa fanatisme tanpa kendali bisa berubah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan pemain di lapangan.