PAPUA – Penembakan pesawat Smart Air di Bandara Korowai Batu, Boven Digoel, Rabu (11/2/2026), kembali menyoroti rapuhnya keamanan di pedalaman Papua Selatan. Sembilan tenaga pendidik dan kesehatan dievakuasi.
Evakuasi berhasil dilakukan pada Kamis sore (13/2/2026). Para guru dan perawat diterbangkan dari Korowai menuju Sentani, Kabupaten Jayapura, menggunakan pesawat MAF jenis Kodiak registrasi PK-MEF yang dikemudikan Kapten Thomas Allen Bolser.
Bupati Boven Digoel, Roni Omba, menyatakan keprihatinan mendalam atas kejadian tersebut. Menurutnya, penembakan ini merupakan insiden paling menonjol dan pertama kali terjadi di wilayah kabupaten setempat, sehingga menimbulkan duka mendalam bagi pemerintah daerah dan masyarakat.
“Kejadian ini menjadi duka bersama bagi kami di Boven Digoel dan berdampak bukan hanya terhadap korban, tetapi juga terhadap rasa aman masyarakat,” ujar Roni Omba di Tanah Merah, Jumat (14/2/2026).
Ia menambahkan, pemerintah daerah telah mengimbau tokoh agama, tokoh masyarakat, dan berbagai elemen berpengaruh untuk aktif menyampaikan pesan menenangkan. Tujuannya agar warga tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.
Aparat keamanan TNI dan Polri telah berkoordinasi ketat untuk memastikan proses evakuasi berjalan aman dari lapangan terbang Korowai Batu. “TNI dan Polri sudah mempersiapkan langkah dan bekerja maksimal agar situasi keamanan kembali kondusif,” kata Roni Omba.
Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Cahyo Sukarnito, menegaskan komitmen Polri dalam melindungi tenaga pendidik dan tenaga kesehatan yang mengabdi di wilayah terpencil. “Polri memastikan setiap proses evakuasi berjalan aman. Ini merupakan bentuk tanggung jawab negara dalam melindungi para guru dan tenaga medis yang telah mengabdikan diri di pedalaman Tanah Papua,” ungkap Cahyo Sukarnito.
Sembilan orang yang dievakuasi terdiri atas enam guru, yaitu Aan Suek, Risa, Ema, Monik, Yonar, dan Nonik, serta tiga perawat: Suster Grace, Rifal, dan Anton.
Insiden penembakan pesawat Smart Air PK-SNR tersebut menewaskan dua awak pesawat, yakni pilot dan kopilot, sesaat setelah pesawat mendarat. Peristiwa ini memicu kekhawatiran terhadap akses layanan pendidikan dan kesehatan di pedalaman Papua, sekaligus menyoroti tantangan keamanan di wilayah tersebut.
Pemerintah dan aparat keamanan terus memantau situasi guna memulihkan kondusivitas dan memastikan kelancaran pelayanan publik di Boven Digoel.
