TEL AVIV, ISRAEL – Seorang mantan perwira tinggi militer Israel memprediksi negara tersebut berpotensi runtuh sebelum genap berusia satu abad sejak berdiri pada 1948. Prediksi itu didasarkan pada retaknya persatuan domestik dan meningkatnya penolakan global terhadap Israel.
Mayor Jenderal (Purn) Itzhak Brik menyampaikan kekhawatiran tersebut melalui artikel opini di surat kabar Maariv berjudul “Israel sedang menuju kehancuran, dan hanya ada satu cara untuk menyelamatkannya.”
“Ketika saya mencoba melihat ke depan, saya bertanya pada diri sendiri: akankah Negara Israel mencapai usia 100 tahun?” tulis Brik dalam artikelnya, seperti dikutip Anadolu, Senin (9/2/2026).
Pendudukan Israel atas wilayah Palestina dimulai sejak 1948, ketika kelompok Zionis merebut tanah melalui kekerasan, pembunuhan massal, dan pengusiran paksa terhadap ratusan ribu penduduk asli. Ekspansi berlanjut pada 1967 dengan penguasaan sisa wilayah Palestina. Hingga kini, Israel dinilai tetap menolak menarik pasukan maupun mengakui negara Palestina merdeka.
Menurut Brik, masyarakat Israel telah lama terbelah oleh konflik internal yang serius, ditandai dengan kebencian mendalam antar kelompok sosial, antara kubu kanan dan kiri, serta antara warga Yahudi dan Arab. Perpecahan tersebut, katanya, merambah berbagai aspek kehidupan sehari-hari.
Ia juga menyoroti kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebagai faktor yang memperburuk situasi. Brik menyebut kepemimpinan saat ini berpandangan sempit dan tanpa arah, serta lebih mengutamakan kelangsungan kekuasaan dibandingkan kepentingan rakyat.
Di tingkat internasional, Israel disebut semakin dipandang sebagai entitas yang memicu penolakan luas. Kondisi itu, menurut Brik, mendorong meningkatnya jumlah warga yang memilih meninggalkan negara tersebut. Laporan Biro Statistik Pusat Israel per 28 Januari mencatat lonjakan emigrasi hingga 39 persen sepanjang 2024 dibandingkan tahun sebelumnya.
Brik menambahkan, daya tahan nasional juga mengalami kemerosotan di berbagai sektor penting, seperti pertahanan, perekonomian, pendidikan, layanan kesehatan, infrastruktur, serta pengembangan ilmu pengetahuan.
Untuk membalikkan keadaan, ia mendorong generasi muda mengambil peran aktif dalam pemerintahan guna mengatasi krisis yang dihadapi negara.
“Tantangan yang kita hadapi, mulai dari memulihkan keamanan di utara dengan Lebanon dan Suriah dan di selatan dengan Gaza, hingga membangun kembali ekonomi dan hubungan internasional, membutuhkan energi yang hanya dimiliki mereka yang masih memiliki puluhan tahun kehidupan di depan,” tulisnya.
Brik tetap optimistis Israel dapat bertahan melewati usia 100 tahun jika generasi muda mampu mengubah keputusasaan menjadi tanggung jawab serta polarisasi menjadi kemitraan intelektual.
Pernyataan tersebut muncul di tengah gejolak politik, keamanan, ekonomi, dan memburuknya citra Israel di mata internasional selama hampir dua tahun konflik bersenjata di Gaza. Tekanan domestik dan internasional terus meningkat terhadap operasi militer Israel di wilayah tersebut.
Sejak 8 Oktober 2023, serangan Israel ke Gaza dilaporkan menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 171.000 lainnya. Dalam periode yang sama, Israel juga terlibat ketegangan militer dengan Lebanon dan Iran, serta melancarkan serangan ke sejumlah wilayah lain di kawasan.
