JAKARTA – Tanggal 6 November menyimpan deretan momen krusial yang membentuk alur sejarah peradaban Indonesia dan dunia. Dari perjuangan heroik pahlawan nasional hingga kelahiran karya sastra abadi, hari ini menjadi saksi bisu peristiwa yang tak lekang oleh waktu. Pada kesempatan ini, mari kita telusuri ulang fakta-fakta menarik di balik tanggal tersebut, yang tak hanya kaya akan nilai pendidikan, tapi juga menginspirasi generasi muda untuk menghargai warisan leluhur.
Sebagai bagian dari rangkaian peringatan sejarah nasional, rangkuman singkat peristiwa ikonik pada 6 November. Fokus utama jatuh pada dua kisah epik penyelesaian Kakawin Bharatayuddha di era Kerajaan Kediri dan perpisahan abadi dengan Cut Nyak Dhien, sang pejuang Aceh yang legendaris. Kisah-kisah ini mengajarkan ketangguhan dan kreativitas bangsa di tengah tantangan zaman.
Kelahiran Epos Mahakarya, Kakawin Bharatayuddha Selesai Digarap pada 1157 M
Di tengah gemerlap Kerajaan Kediri pada abad ke-12, dunia sastra Jawa Kuno mencapai puncak kejayaannya melalui Kakawin Bharatayuddha. Karya ini dianggap sebagai salah satu mahakarya paling berpengaruh di antara berbagai naskah kuno Jawa. Isinya mengisahkan pertempuran dahsyat antara Korawa dan Pandawa dikenal sebagai Perang Bharatayuddha—yang menjadi fondasi cerita epik Mahabharata versi lokal.
Berdasarkan kronogram yang terukir di bagian pembuka naskah, proses penulisan rampung tepat pada masa sanga-kuda-śuddha-candramā, setara dengan tahun 1079 Saka atau 1157 Masehi. Saat itu, Kerajaan Kediri dipimpin oleh Prabu Jayabaya, sang raja visioner yang dikenal dengan nubuat-nubuatnya. Secara spesifik, naskah ini difinalisasi pada 6 November 1157, menandai tonggak penting dalam perkembangan sastra Nusantara.
Kolaborasi dua tokoh besar, Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, menjadi rahasia di balik kehebatan karya ini. Bagian awal hingga kemunculan Prabu Salya di medan perang merupakan hasil karya Mpu Sedah, sementara kelanjutan narasi digarap oleh Mpu Panuluh. Hingga kini, Kakawin Bharatayuddha tetap menjadi sumber inspirasi bagi peneliti sastra dan budayawan, menggambarkan nilai-nilai kepahlawanan, strategi perang, serta filsafat kehidupan yang relevan dengan isu kontemporer seperti konflik dan rekonsiliasi.
Cut Nyak Dhien Tutup Usia di Pengasingan Belanda
Tak kalah menggetarkan, 6 November juga menjadi hari perpisahan dengan salah satu tokoh perempuan paling tangguh dalam sejarah perlawanan kolonial Indonesia: Cut Nyak Dhien. Lahir pada 1848 di Lampadang, Kerajaan Aceh, sang pahlawan nasional ini menjadi simbol ketabahan rakyat Aceh dalam menghadapi invasi Belanda selama Perang Aceh (1873–1904).
Cut Nyak Dhien dikenal karena kepemimpinannya yang cerdik dalam gerilya, di mana ia memimpin pasukan wanita untuk melawan penjajah. Meski akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat, semangatnya tak pernah pudar. Ia menghembuskan napas terakhir pada 6 November 1908 akibat penyakit yang dideritanya pasca pengasingan tersebut. Jenazahnya dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang, yang kini menjadi situs ziarah bagi mereka yang mengagumi dedikasinya.
“Cut Nyak Dhien banyak berjasa dalam perang melawan Belanda,” seperti yang tercatat dalam sejarah nasional. Kontribusinya tidak hanya membentuk narasi kemerdekaan Aceh, tapi juga menginspirasi gerakan feminisme dan nasionalisme di Indonesia modern. Hari ini, peringatan wafatnya sering dikaitkan dengan Hari Pahlawan, mengingatkan kita akan pentingnya memperjuangkan kedaulatan di tengah ancaman eksternal.
Peristiwa-peristiwa pada 6 November ini bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan pelajaran berharga tentang resiliensi budaya dan perjuangan kemerdekaan. Di era digital saat ini, kisah Cut Nyak Dhien dan Kakawin Bharatayuddha bisa menjadi bahan diskusi di sekolah atau forum online, mendorong pemahaman yang lebih dalam tentang identitas bangsa.