JAKARTA – Perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir antara Amerika Serikat dan Rusia, New START, resmi berakhir pada Kamis (5/2/2026), menandai akhir era pembatasan hukum bilateral atas arsenal nuklir strategis kedua negara.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan bahwa kedua pihak tidak lagi terikat oleh kewajiban atau deklarasi simetris apa pun dalam kerangka perjanjian tersebut.
“Kami berasumsi bahwa para pihak dalam Perjanjian New START tidak lagi terikat oleh kewajiban atau deklarasi simetris apa pun dalam konteks perjanjian tersebut,” kata kementerian itu.
“Pada intinya, ide-ide kami sengaja diabaikan. Pendekatan AS ini tampaknya keliru dan disayangkan,” tambahnya.
Pernyataan Moskow disampaikan sehari sebelum batas waktu berakhir, setelah Amerika Serikat tidak merespons usulan Presiden Vladimir Putin untuk mempertahankan batasan rudal dan hulu ledak selama 12 bulan tambahan secara sukarela. Dengan demikian, Washington dan Moskow kini bebas meningkatkan jumlah hulu ledak nuklir yang dikerahkan, meskipun proses tersebut memerlukan waktu dan sumber daya signifikan karena tantangan logistik.
New START, atau Treaty on Measures for the Further Reduction and Limitation of Strategic Offensive Arms, ditandatangani pada 2010 oleh Presiden AS Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev.
Perjanjian ini mulai berlaku pada 2011 dan membatasi jumlah senjata nuklir strategis yang dikerahkan, yaitu hulu ledak aktif siap pakai yang dirancang untuk menargetkan pusat politik, militer, dan industri utama lawan—berbeda dengan stok yang disimpan atau menunggu pembongkaran.
Perjanjian ini pernah diperpanjang lima tahun pada 2021, sehingga berakhir pada 4 Februari 2026 (atau 5 Februari di sejumlah zona waktu). Arsenal nuklir AS dan Rusia mencakup lebih dari 90 persen senjata nuklir dunia. Data Januari 2025 menunjukkan Rusia memiliki sekitar 4.309 hulu ledak, sementara AS memiliki 3.700. Sebagai perbandingan, China memiliki sekitar 600, Inggris 225, dan Prancis 290.
Para ahli memperingatkan bahwa tanpa pembatasan ini, kedua negara berpotensi menggandakan ukuran arsenal mereka dalam skenario ekstrem. “Tanpa perjanjian ini, masing-masing pihak akan bebas untuk menambahkan ratusan hulu ledak tambahan ke rudal dan pesawat pembom berat yang telah mereka kerahkan, yang kira-kira akan menggandakan ukuran persenjataan mereka saat ini dalam skenario paling maksimalis,” kata Matt Korda, Wakil Direktur Proyek Informasi Nuklir di Federasi Ilmuwan Amerika, kepada Reuters.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyebut momen ini sebagai “momen genting bagi perdamaian dan keamanan internasional”.
“Untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad, kita menghadapi dunia tanpa batasan yang mengikat pada persenjataan nuklir strategis Federasi Rusia dan Amerika Serikat—dua negara yang memiliki sebagian besar persediaan senjata nuklir global,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Ia menekankan bahwa risiko penggunaan senjata nuklir kini berada pada level tertinggi dalam beberapa dekade, namun juga melihat peluang untuk merancang rezim pengendalian senjata baru yang sesuai dengan dinamika global saat ini.
“Dunia kini menantikan Federasi Rusia dan Amerika Serikat untuk menerjemahkan kata-kata menjadi tindakan,” tambahnya, seraya mendesak keduanya segera kembali ke meja perundingan guna menyepakati kerangka pengganti yang dapat diverifikasi, mengurangi risiko, dan memperkuat keamanan bersama.
Paus Leo dari Vatikan juga menyuarakan keprihatinan serupa dalam audiensi mingguan.“Saya menyampaikan seruan mendesak agar instrumen ini tidak berakhir,” katanya.
“Lebih mendesak dari sebelumnya untuk mengganti logika ketakutan dan ketidakpercayaan dengan etika bersama yang mampu membimbing pilihan menuju kebaikan bersama.”
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan keterbukaan terhadap perpanjangan. Namun pada Januari 2026 ia mengatakan kepada The New York Times, “Jika berakhir, ya sudah. Kita akan membuat perjanjian yang lebih baik.” Trump juga menekankan perlunya melibatkan China dalam diskusi nuklir mendatang.
Berakhirnya New START meningkatkan kekhawatiran akan perlombaan senjata baru, terutama dengan ekspansi nuklir China yang pesat, di tengah ketegangan geopolitik global yang terus memanas.
