Sebuah duka mendalam menyelimuti Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Seorang siswa sekolah dasar berusia 12 tahun ditemukan meninggal dunia di kediamannya. Pihak kepolisian menduga kuat korban mengakhiri hidupnya sendiri, sebuah keputusan tragis yang menyisakan pilu sekaligus pelajaran berharga tentang kesehatan mental anak.
Jejak Luka di Media Sosial
Beberapa hari sebelum kejadian, korban sempat mengunggah tangkapan layar (screenshot) percakapan WhatsApp yang memilukan. Dalam unggahan tersebut, terlihat rentetan kata makian dan kalimat kasar yang dikirimkan sang ibu kepadanya.
Seolah memberi sinyal atas beban batin yang dipikulnya, korban menyertakan keterangan singkat namun menyayat hati: “Di balik tawa gua, di sisi lain aku juga cape.” Unggahan ini kemudian viral di media sosial setelah dibagikan ulang oleh akun komunitas lokal, memicu diskusi luas mengenai cara berkomunikasi dengan anak.
Kronologi Berdasarkan Rekaman CCTV
Kasat Reskrim Polres Demak, Anggah Mardwi Pitriyono, menjelaskan bahwa peristiwa ini pertama kali diketahui oleh ibu korban saat pulang ke rumah pada Jumat (13/2) petang. Berdasarkan rekaman CCTV:
-
Pukul 18.01 WIB: Ibu korban tiba di rumah dengan mobil.
-
Pukul 18.03 WIB: Hanya berselang dua menit, sang ibu keluar rumah sambil berteriak histeris meminta tolong setelah mendapati anaknya dalam kondisi tergantung.
Warga segera melarikan korban ke Rumah Sakit Wongsonegoro Semarang, namun nyawa bocah tersebut tidak tertolong. Hasil visum forensik mengonfirmasi tanda-tanda kematian akibat mati lemas karena gantung diri tanpa ditemukan indikasi kekerasan lain.
Polisi: Tidak Ada Indikasi Pembunuhan
Kepolisian memastikan bahwa ibu korban tidak terlibat dalam kematian sang anak. Rentang waktu dua menit antara kedatangan ibu dan teriakan minta tolong dinilai tidak memungkinkan bagi seseorang untuk melakukan tindak pembunuhan.
“Selain itu, aktivitas terakhir di ponsel korban tercatat pukul 16.25 WIB. Selama rentang waktu hingga sang ibu pulang, tidak ada orang lain yang terlihat masuk ke rumah tersebut,” tambah Anggah.
Pesan untuk Para Orang Tua
Meski menemukan bukti percakapan yang kasar, polisi menekankan bahwa pemicu tindakan korban bersifat kompleks dan tidak bisa hanya disimpulkan dari satu faktor percakapan tersebut. Namun, tragedi ini menjadi pengingat keras bagi para orang tua.
“Kami berharap orang tua bisa lebih bijak dalam berkomunikasi dengan anak. Kehadiran orang tua sebagai pendengar yang baik dan pengawasan terhadap aktivitas digital anak sangat krusial agar mereka merasa didukung dan tidak sendirian,” tutup Anggah.
Kontak Bantuan: Jika Anda atau orang terdekat Anda sedang mengalami masa sulit dan memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidup, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Layanan konseling atau psikolog adalah pilihan bijak untuk meringankan beban mental Anda. Anda tidak sendiri.
