TEHERAN, IRAN – Pesawat pengintai canggih milik Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) terdeteksi beroperasi di wilayah dekat perbatasan Iran, menandai peningkatan aktivitas militer Washington di kawasan Teluk Persia di tengah ketegangan nuklir yang berlangsung.
Menurut data pelacakan penerbangan yang dihimpun dari berbagai sumber, sebuah Boeing P-8A Poseidon, pesawat anti-kapal selam dan pengintaian maritim, lepas landas dari Bahrain pada Rabu (11/2/2026). Pesawat tersebut melakukan pola penerbangan melingkar di atas Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia.
Secara bersamaan, drone pengawasan jarak jauh MQ-4C Triton produksi Northrop Grumman berangkat dari Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, dan melaksanakan misi patroli di atas Teluk Oman, wilayah perairan internasional yang berdekatan dengan pantai tenggara Iran.
Aktivitas ini terjadi di tengah eskalasi tekanan militer AS terhadap Teheran. Presiden AS Donald Trump bulan lalu menyatakan bahwa sebuah “armada besar” sedang menuju Iran. Ia menambahkan harapannya agar Teheran bersedia bernegosiasi dan menandatangani kesepakatan yang “adil dan merata”.
Trump juga mengingatkan kembali serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025 dalam Operasi Midnight Hammer. Ia memperingatkan bahwa serangan lanjutan akan jauh lebih destruktif, seraya mendesak agar hal tersebut dihindari.
Menurut laporan The Wall Street Journal pada Rabu (11/2/2026), Departemen Pertahanan AS telah memerintahkan persiapan kelompok serang kapal induk kedua untuk kemungkinan pengerahan ke Timur Tengah. Langkah ini disebut sebagai bagian dari rencana darurat jika diplomasi gagal mencapai terobosan terkait program nuklir Iran.
Tiga pejabat AS mengonfirmasi kepada media tersebut bahwa persiapan itu merupakan respons terhadap potensi serangan apabila upaya diplomatik menemui jalan buntu. Namun, Presiden Trump belum mengeluarkan perintah resmi pengerahan, dan rencana masih dapat berubah.
Salah satu pejabat menyebut perintah pengerahan bisa dikeluarkan “dalam hitungan jam”. Pejabat lain menyatakan Pentagon sedang menyiapkan kapal induk untuk bergerak dalam waktu sekitar dua minggu, kemungkinan dari Pantai Timur AS.
Situasi ini mencerminkan pendekatan ganda AS: mempertahankan tekanan militer sekaligus membuka ruang negosiasi nuklir dengan Iran, di tengah kekhawatiran eskalasi yang dapat mengganggu stabilitas kawasan dan pasokan energi global.
