PT PGN Tbk, sebagai Subholding Gas Pertamina, berkomitmen untuk mendukung pemerintah dalam memenuhi kebutuhan gas bumi nasional dengan mengintegrasikan infrastruktur dan proyek strategis yang fokus pada efisiensi serta efektivitas biaya logistik. Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN, Rosa Permata Sari, menegaskan bahwa PGN akan terus mengembangkan bisnis inti, terutama dalam proyek transmisi dan distribusi gas bumi.
Proyek pipanisasi gas bumi dan pengembangan infrastruktur beyond pipeline serta infrastruktur pendukung lainnya menjadi fokus utama PGN. Dengan berkembangnya infrastruktur gas bumi di berbagai wilayah, pengguna gas bumi akan mendapatkan akses yang lebih terjangkau.
PGN akan terlibat dalam sejumlah proyek strategis, termasuk proyek pipa gas WNTS-Pemping yang menyalurkan gas dari Lapangan Natuna ke pasar domestik. Selain itu, penyelesaian proyek jaringan gas Cirebon – Semarang tahap II akan dilanjutkan dengan sinergi antara PGN dan pemerintah untuk membawa gas dari Jawa Timur ke Jawa Barat. Proyek lain yang akan dikembangkan adalah Pipa Distribusi Tegal – Cilacap menuju Refinery Unit IV Cilacap sepanjang ± 130 km.
Pengembangan infrastruktur gas juga dilakukan di kilang Tuban serta pembangunan pipa untuk mendukung pabrik pupuk di Indonesia Timur. Interkoneksi pipa lain yang akan dijalankan mencakup Pipa Dumai – Sei Mangke, Pipa Duri – Balam, Duri – Petapahan, Pipa Bangkanai – Balikpapan, dan Pipa Bintuni – Fakfak, dengan dukungan pemerintah melalui APBN.

PGN berkomitmen menjaga keamanan pasokan gas bumi dengan integrasi infrastruktur serta pengembangan proyek strategis yang adaptif terhadap peluang bisnis masa depan. Salah satu fokus utama adalah penguatan infrastruktur LNG atau moda beyond pipeline untuk menyeimbangkan supply dan demand gas bumi domestik. Saat ini, PGN tengah melakukan revitalisasi Tanki LNG Hub Arun yang strategis di jalur perdagangan Asia Tenggara dan Asia Selatan.
FSRU Lampung juga memainkan peran esensial dengan mengalirkan hasil regasifikasi LNG untuk sektor kelistrikan dan industri yang permintaannya meningkat. Selain itu, FSRU Jawa Barat berfungsi sebagai penunjang kestabilan layanan dan supply point LNG.
Menghadapi tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan, skema beyond pipeline (shipping) menjadi langkah yang feasible untuk wilayah Indonesia Timur. PGN juga mendorong komersialisasi LNG dengan masuk ke bisnis LNG Trading dan menambah fasilitas LNG seperti Bontang LNG Bunkering, Teluk Lamong LNG, serta Terminal LNG Bunkering untuk sektor Marine Fuel.
“Upaya PGN baik pipeline maupun beyond pipeline memerlukan sinergi yang selaras dengan kepentingan seluruh stakeholder, pemerintah, dan pengguna gas bumi di sisi hilir. Dengan optimisme menghadapi tantangan yang dinamis, keseimbangan supply dan demand diharapkan terjadi pada tahun 2030. PGN juga mendorong pertumbuhan pengguna baru,” tutup Rosa.