JAKARTA – Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko tak hanya menguji kemampuan para pemain, tetapi juga ketahanan fisik mereka menghadapi cuaca panas ekstrem.
PBB menilai kondisi tersebut bukan sekadar fenomena biasa, melainkan konsekuensi nyata dari krisis iklim.
Sekretaris Eksekutif Badan Perubahan Iklim PBB, Simon Stiell, menegaskan bahwa kenaikan suhu global kini ikut memengaruhi dunia olahraga. “Gelombang panas yang terjadi bukanlah sebuah kebetulan. Itu merupakan dampak perubahan iklim akibat penggunaan batu bara, minyak, dan gas selama lebih dari satu abad,” ucapnya, dilansir Kamis (2/7/2026).
“Kini dampaknya mulai dirasakan dalam berbagai sektor, termasuk sepak bola yang dicintai banyak orang.”
Menurut laporan The Guardian, sejumlah laga fase grup berlangsung dalam kategori panas ekstrem. Federasi Pesepak Bola Profesional Dunia (FIFPRO) menyoroti pentingnya protokol keselamatan, bahkan membuka kemungkinan penundaan pertandingan bila suhu dan kelembapan dianggap membahayakan kesehatan pemain.
Meski beberapa stadion dilengkapi sistem pendingin, risiko tetap ada. Stadion Hard Rock di Miami menjadi sorotan setelah dua pertandingan Uruguay mencatat tingkat wet bulb globe temperature (WBGT) tertinggi sepanjang turnamen, mencapai lebih dari 33 derajat Celsius.
FIFPRO menilai sepak bola harus beradaptasi dengan perubahan iklim yang kian sering memengaruhi jalannya kompetisi. “Ke depan, penyusunan jadwal pertandingan akan semakin dipengaruhi kondisi cuaca. Pemanasan global membuat suhu ekstrem menjadi faktor yang tidak bisa lagi diabaikan,” jelas pihak FIFPRO.
WBGT sendiri merupakan metode pengukuran yang memperhitungkan suhu udara, kelembapan, intensitas sinar matahari, dan kecepatan angin.