JAKARTA – Dalam pidato kenegaraan di Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI, 15 Agustus 2025, Ketua DPR RI Dr. (H.C.) Puan Maharani menyampaikan seruan kuat untuk memperkuat persatuan nasional, mereformasi sistem demokrasi, dan mempercepat langkah menuju cita-cita Indonesia Emas 2045.
Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, para mantan presiden, wakil presiden, pimpinan lembaga negara, dan tamu kehormatan dari berbagai negara, Puan menegaskan bahwa Pancasila adalah jiwa pemersatu bangsa yang harus dijaga di tengah keberagaman.
Ia mengingatkan, “Kekuatan itu tidak lahir dari senjata atau kekayaan semata, melainkan dari kehendak rakyat untuk bersama-sama menjadi Indonesia.”
Pidato yang berdurasi hampir satu jam itu memuat refleksi sejarah kemerdekaan, kritik terhadap sistem politik, apresiasi pada kebijakan cepat pemerintah, hingga peta jalan mengatasi tantangan global.
Puan juga mengingatkan bahwa demokrasi sejati harus memberi ruang setara bagi semua warga negara tanpa distorsi kepentingan kelompok.
Sorotan Utama Pidato Puan Maharani:
1. Kedaulatan Rakyat dan Reformasi Politik
Puan menegaskan perlunya demokrasi yang hidup di ruang publik, bukan hanya berhenti di bilik suara.
Kritik rakyat, menurutnya, harus dilihat sebagai cahaya perbaikan, bukan pemicu perpecahan. Ia mengkritik praktik “campur tangan dan buah tangan” yang mengaburkan kemurnian suara rakyat dalam Pemilu.
2. Apresiasi untuk Respon Cepat Pemerintah
DPR RI memberi penghargaan atas langkah cepat Presiden Prabowo menyelesaikan sejumlah persoalan strategis, seperti pencabutan izin tambang di Geopark Raja Ampat, penyelesaian sengketa tapal batas Aceh–Sumut, serta kebijakan harga gabah layak untuk petani.
3. Kesetaraan Gender sebagai Pilar Pembangunan
Puan menyoroti pentingnya keterlibatan perempuan dalam politik. Meski keterwakilan perempuan di DPR 2024–2029 mencapai rekor 21,9%, angka itu masih jauh dari target 30%.
“Suara perempuan adalah nada asli yang ikut membentuk simfoni kehidupan bangsa,” tegasnya.
4. Ketahanan Nasional di Tengah Krisis Global
Dalam konteks perang dagang, krisis iklim, disrupsi teknologi, dan ketimpangan ekonomi, Puan mendorong penguatan kedaulatan, kemandirian, dan kebudayaan.
Ia menekankan pentingnya kemandirian pangan, energi, manufaktur, serta investasi pada pendidikan dan teknologi.
5. Peringatan terhadap Perilaku “Serakahnomic”
Mengutip Presiden Prabowo, Puan mengutuk perilaku serakah yang merusak sendi kehidupan bangsa.
Ia menuntut penegakan hukum tegas, pemberantasan bisnis ilegal, serta kolaborasi semua elemen bangsa dalam transformasi ekonomi.
Menuju Indonesia Emas 2045
Dengan proyeksi populasi 324 juta jiwa dan 70% usia produktif pada 2045, Puan menegaskan bahwa dua dekade ke depan adalah masa krusial.
Ia memperingatkan, jika pola pikir lama dibiarkan, cita-cita Indonesia Emas hanya akan menjadi fatamorgana.***
