JAKARTA – Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mengintensifkan penyelidikan untuk mengungkap aktor intelektual di balik kericuhan aksi demonstrasi yang terjadi di Jakarta dan sejumlah wilayah Indonesia pada akhir Agustus 2025. Untuk mempercepat pengusutan, Polri berkolaborasi dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI), Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, dan Badan Intelijen Negara (BIN).
Langkah ini diambil guna memastikan situasi keamanan tetap terkendali pasca-kerusuhan yang menimbulkan korban dan kerusakan fasilitas umum.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan bahwa pihaknya sedang mendalami fakta-fakta terkait kericuhan tersebut. “Tentunya kami memiliki tugas mendalami peristiwa (kerusuhan) yang terjadi. Mulai dari fakta-fakta yang sudah kita dapatkan tentunya akan kita terus lengkapi,” ujar Listyo saat ditemui di Mapolda Metro Jaya, Minggu (7/9/2025) malam.
Ia menambahkan, kerja sama dengan TNI, BAIS, dan BIN dilakukan untuk memperoleh informasi tambahan guna mengungkap dalang di balik aksi anarkis tersebut.
“Kami bekerjasama nanti tentunya dengan teman-teman dari TNI, dari BAIS, dari BIN, dan seluruh elemen yang bisa menjadi sumber informasi untuk kemudian kita bisa menuntaskan,” sambungnya.
Aksi demonstrasi yang berlangsung pada 28–30 Agustus 2025 di Jakarta dan beberapa daerah lainnya berubah menjadi kerusuhan, ditandai dengan pembakaran gedung, perusakan fasilitas umum, hingga penjarahan. Berdasarkan data Polri per 1 September 2025, sebanyak 3.195 orang ditangkap di 15 wilayah Polda, dengan 55 di antaranya ditetapkan sebagai tersangka.
Selain itu, sembilan orang dilaporkan meninggal dunia akibat bentrokan, termasuk pengemudi ojek online Affan Kurniawan yang tewas tertabrak kendaraan taktis Brimob.
Wakil Kepala BIN, Imam Sugianto, memastikan situasi pasca-kerusuhan kini telah kondusif. “Insya Allah kondusif, semua sudah dalam pengelolaan TNI-Polri. Kita bersatu,” kata Imam saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (4/9/2025).
Ia menegaskan bahwa TNI dan Polri terus berupaya menjaga keamanan agar aktivitas masyarakat dapat berjalan normal. Kapolri juga mengapresiasi dukungan masyarakat dan tokoh agama dalam meredam ketegangan.
“Alhamdulillah kegiatan masyarakat sudah kembali normal. Ya, tentunya dengan kerjasama antara TNI, Polri, dan masyarakat serta tentunya dukungan doa dari ulama ini menjadi salah satu hal yang bisa mengakselerasi terciptanya situasi yang kondusif,” tukas Listyo.
CEO Malaka Project, Ferry Irwandi, menyebut bahwa analisis data modern dapat mengungkap pola penyebaran isu di media sosial. “Dalam hitungan menit, pola penyebaran hashtag tertentu bisa ditelusuri. Dari situ terlihat siapa yang pertama menyebarkan isu, afiliasi politik atau kelompoknya, serta arah dukungan maupun serangan,” jelas Ferry
Sementara itu, spekulasi mengenai keterlibatan pihak asing juga mencuat. Mantan Kepala BIN, AM Hendropriyono, mengklaim mengetahui adanya aktor asing yang menggerakkan kericuhan melalui kaki tangan di dalam negeri.
“Dari luar. Orang yang dari luar hanya menggerakkan kaki tangannya yang ada di dalam. Dan saya sangat yakin bahwa kaki tangannya di dalam ini tidak ngerti bahwa dia dipakai,” ujar Hendropriyono usai bertemu Presiden Prabowo Subianto, Kamis (28/8/2025).
Pihak kepolisian juga telah menangkap tujuh pemilik akun media sosial yang diduga menyebarkan provokasi, termasuk Laras Faizati yang dituduh menghasut pembakaran gedung Mabes Polri.
Penegakan hukum dilakukan dengan mengedepankan profesionalisme dan penghormatan terhadap hak asasi manusia, sebagaimana diungkapkan oleh Lembaga Advokasi Kajian Strategis Indonesia (LAKSI).
Presiden Prabowo Subianto turut menunjukkan perhatian dengan menjenguk korban kericuhan di RS Bhayangkara Polri, Jakarta Timur, pada 1 September 2025.
Ia menyampaikan keprihatinan atas 43 korban luka, termasuk seorang perempuan yang kakinya patah akibat ulah perusuh.
“Baik. Ini ada lebih 43 yang cedera, sebagian besar sudah pulang. Sekarang masih 17 ada di sini, 14 anggota dan 3 masyarakat,” kata Prabowo.
