Di tengah berbagai produk makanan olahan yang beredar, ada satu es krim yang benar-benar berbeda dari yang lain. Es krim ini bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal inovasi, kesehatan, dan pemberdayaan warga binaan pemasyarakatan.
Es krim produksi Lapas Kelas IIB Nirbaya Nusakambangan dibuat dengan bahan utama yang jarang digunakan di industri es krim komersial: tepung mocaf (modified cassava flour) alias tepung singkong termodifikasi.
Mengapa Tepung Mocaf?
Tepung mocaf memiliki beberapa keunggulan dibandingkan tepung terigu biasa yaitu :
- Rendah kalori — cocok bagi mereka yang sedang menjaga berat badan atau penderita diabetes
- Bebas gluten — aman untuk penderita celiac disease atau intoleransi gluten
- Tekstur lebih lembut dan tidak mudah menggumpal
- Tidak mengandung protein alergen seperti gluten pada terigu
- Dapat meningkatkan nilai gizi produk akhir karena kandungan serat yang lebih tinggi
Dengan menggunakan mocaf sebagai base, es krim yang dihasilkan memiliki profil nutrisi yang jauh lebih ramah kesehatan dibandingkan es krim konvensional berbasis susu dan terigu.
Produksi Melibatkan 46 Warga Binaan
Proses pembuatan es krim ini tidak dilakukan oleh mesin secara otomatis sepenuhnya. Lapas Kelas IIB Nirbaya Nusakambangan melibatkan 46 warga binaan secara langsung dalam rantai produksinya.
Dalam sehari, mereka mampu memproduksi tepung mocaf hingga 45 kilogram. Selain tepung mocaf, warga binaan juga memproduksi beras mocaf — varian beras rendah kalori dan bebas gluten yang bisa menjadi alternatif sehat bagi penderita diabetes atau yang sedang diet.
Sudah Berizin BPOM dan Sedang Proses Pendaftaran Merk Dagang
Produk tepung mocaf dari Lapas Nirbaya Nusakambangan telah resmi mengantongi izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Saat ini tim juga sedang mengajukan pendaftaran merek dagang dengan nama “Nirbaya” agar produk ini memiliki identitas yang kuat dan dapat dipasarkan lebih luas.
Lebih dari Sekadar Produk, Ini Program Rehabilitasi dan Pemberdayaan
Program produksi mocaf dan es krim di Lapas Nirbaya bukan hanya sekadar usaha sampingan. Kegiatan ini merupakan bagian dari pembinaan kemandirian dan keterampilan kerja bagi warga binaan.
Melalui proses produksi, mereka belajar teknik pengolahan singkong menjadi tepung mocaf berkualitas tinggi. Mereka juga belajar manajemen produksi makanan dalam skala kecil-menengah serta pengendalian mutu dan standar kebersihan pangan.
Warga binaan juga belajar bekerjasama dalam tim dan disiplin waktu serta mengetahui nilai ekonomi dari produk olahan lokal.
Hasil produksi yang sudah berizin BPOM juga menjadi bukti bahwa program pembinaan di Lapas dapat menghasilkan barang yang aman dikonsumsi masyarakat luas.
