JAKARTA – Hari ini, Selasa (17/2/2026), langit Bumi dihiasi fenomena astronomi langka dan spektakuler: gerhana matahari cincin atau dikenal sebagai ring of fire (cincin api). Puncak peristiwa ini terjadi sekitar pukul 12.12–12.13 UTC (19.12–19.13 WIB), ketika Bulan menutupi hampir seluruh bagian tengah Matahari dan menyisakan lingkaran cahaya terang berbentuk cincin yang memukau.
Gerhana matahari cincin terjadi saat Bulan berada di posisi lebih jauh dari Bumi (dekat apogee), sehingga ukuran tampaknya lebih kecil dan tidak mampu menutup Matahari sepenuhnya. Akibatnya, Matahari terlihat seperti cincin api bercahaya. Pada peristiwa kali ini, magnitudo gerhana mencapai sekitar 0,963 dengan sekitar 92–96 persen permukaan Matahari tertutup.
Durasi dan Jalur Gerhana
Dilansir dari Space.com, durasi puncak cincin api berlangsung sekitar 2 menit 18–20 detik (sekitar 140 detik). Lebar jalur annularitas maksimum mencapai sekitar 616 kilometer. Gerhana ini menjadi gerhana matahari pertama pada 2026 sekaligus pembuka rangkaian periode aktif gerhana hingga 2028.
Sayangnya, Indonesia tidak dapat menyaksikan fenomena ini secara langsung. Jalur utama cincin api melintasi wilayah terpencil di Antartika, khususnya Antartika Barat dan kawasan Davis Sea, serta sebagian Samudra Selatan. Wilayah lain yang dilalui antara lain Kepulauan Heard dan McDonald serta French Southern and Antarctic Lands.
Sementara itu, gerhana sebagian dapat diamati di wilayah selatan Afrika, ujung selatan Amerika Selatan, serta sebagian Samudra Hindia, Atlantik, dan Pasifik.
Cara Menyaksikan dari Indonesia
Masyarakat Indonesia dapat mengikuti fenomena ini melalui siaran langsung yang disediakan oleh berbagai lembaga, termasuk NASA, BMKG, BRIN, serta sejumlah observatorium dan platform astronomi internasional.
Peringatan Keamanan
Meski hanya menyisakan cincin cahaya, gerhana matahari tetap berbahaya jika diamati tanpa pelindung mata khusus. Pengamatan harus menggunakan filter surya atau kacamata gerhana berstandar ISO 12312-2. Paparan langsung cahaya Matahari tanpa perlindungan dapat menyebabkan kerusakan retina permanen.
Makna dan Momentum
Fenomena ini juga memiliki makna tambahan karena terjadi menjelang akhir Syaban dan mendekati awal Ramadan 1447 Hijriah, serta berdekatan dengan perayaan Lunar New Year di beberapa budaya.
Bagi pecinta astronomi, gerhana ini menjadi pengingat akan dinamika tata surya yang terus bergerak. Publik dapat menantikan gerhana-gerhana berikutnya yang diprediksi lebih mudah diamati dari wilayah berpenghuni pada tahun-tahun mendatang.