JAKARTA – Pernahkah Anda merasa kehabisan tenaga meski hari baru dimulai? Kondisi lemas dan mudah capek ini sering dianggap remeh, padahal bisa jadi sinyal dari masalah kesehatan serius.
Dari pola tidur buruk hingga gangguan medis tersembunyi, mengenali akar penyebabnya krusial untuk mengembalikan vitalitas harian.
Menurut data dari berbagai studi medis, lebih dari 70% orang dewasa mengalami kelelahan ringan hingga sedang setiap minggu. Namun, jika rasa lelah ini bertahan lebih dari dua minggu, segera periksakan diri ke dokter. Berikut tujuh penyebab umum yang paling sering memicu gejala ini, lengkap dengan tips pencegahannya.
1. Tidur Tak Cukup atau Buruk Kualitas
Kurang istirahat menjadi biang kerok utama di era digital ini. Tubuh membutuhkan waktu regenerasi untuk memproduksi hormon pertumbuhan, memperbaiki sel-sel rusak, dan memulihkan energi. Tanpa itu, Anda bangun dengan badan pegal dan pikiran kusut.
Orang dewasa idealnya butuh 7–9 jam tidur per malam. Gangguan seperti insomnia—sulit tertidur atau terbangun terus-menerus—bisa dipicu oleh stres, hormon menopause, atau lingkungan kamar yang tidak nyaman.
“Meskipun kebutuhan tidur bisa berbeda pada tiap individu, orang dewasa disarankan tidur minimal 7 jam per malam agar kesehatan tetap optimal,” ujar pakar kesehatan seperti yang dikutip dari sumber medis terpercaya.
Solusi:
Coba rutinitas sebelum tidur seperti menghindari gadget satu jam sebelumnya, minum teh chamomile, atau berkonsultasi dengan dokter mengenai suplemen melatonin untuk mengatasi insomnia kronis.
2. Defisiensi Nutrisi yang Menggerogoti Energi
Meski makan tiga kali sehari, kekurangan vitamin dan mineral tertentu bisa membuat Anda lesu seharian. Tubuh seperti mesin tanpa bahan bakar—sulit bergerak optimal.
Beberapa nutrisi kunci yang sering bermasalah antara lain: zat besi (pemicu anemia), vitamin B2, B3, B5, B6, B9, B12, vitamin D, vitamin C, serta magnesium. Gejala awalnya mungkin halus, tapi lama-kelamaan bisa mengganggu produktivitas.
“Jika kelelahan terus terjadi, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga medis untuk mengetahui apakah diperlukan pemeriksaan kadar nutrisi. Biasanya, kelelahan akibat kekurangan nutrisi akan membaik setelah kadar nutrisi kembali normal,” saran para ahli gizi.
Tips:
Perbanyak konsumsi makanan kaya nutrisi seperti bayam (zat besi), ikan salmon (vitamin D), dan kacang almond (magnesium). Tes darah sederhana bisa mendeteksi defisiensi sejak dini.
3. Stres Kronis yang Menguras Baterai Tubuh
Tekanan kerja atau masalah pribadi adalah hal wajar, namun jika berlangsung terus-menerus, dapat menyebabkan exhaustion disorder —kelelahan fisik dan mental yang parah. Stres kronis bahkan dapat mengubah struktur otak dan memicu peradangan, membuat hari terasa jauh lebih berat.
Studi menunjukkan, sekitar 40% kasus kelelahan modern berkaitan dengan stres. Gejalanya meliputi: sulit konsentrasi, mudah marah, dan tetap merasa lelah meski sudah istirahat.
Cara mengatasi:
Praktikkan mindfulness seperti meditasi 10 menit per hari atau berjalan kaki di taman. Jika stres sudah parah, terapi kognitif-perilaku (CBT) terbukti efektif untuk mengatur ulang respons stres.
4. Gangguan Medis Tersembunyi
Jangan anggap remeh rasa lemas yang tak kunjung hilang—bisa jadi itu merupakan tanda penyakit serius. Beberapa kondisi medis yang sering memunculkan gejala kelelahan antara lain: sleep apnea, hipotiroidisme, kanker, chronic fatigue syndrome, multiple sclerosis, gangguan kecemasan, hingga penyakit ginjal kronis.
Pemeriksaan seperti tes darah atau polisomnografi bisa membantu mengungkap penyebabnya.
“Kelelahan kronis yang tidak jelas penyebabnya perlu diperiksakan ke dokter. Pemeriksaan medis dapat membantu menyingkirkan kemungkinan penyakit yang menyebabkan kelelahan,” tegas rekomendasi medis standar.
Fakta:
Wanita lebih rentan mengalami hipotiroidisme, sementara pria sering mengabaikan sleep apnea—keduanya dapat mencuri energi secara diam-diam.
5. Dehidrasi Diam-Diam yang Sering Terlupakan
Air adalah sumber energi dasar, namun banyak orang yang kurang minum. Dehidrasi ringan saja sudah bisa menurunkan konsentrasi hingga 20% dan memicu rasa lemas. Tubuh kehilangan elektrolit, membuat otot cepat lelah dan pegal.
Solusi:
Minum 2–3 liter air per hari, bisa ditambah dengan infused water (misalnya lemon) untuk tambahan vitamin C. Pantau warna urine—jika berwarna kuning pekat, itu tanda Anda butuh lebih banyak cairan.
6. Kurang Aktivitas Fisik yang Ironis
Paradoksnya, kurang gerak justru membuat tubuh lebih mudah lelah. Olahraga ringan dapat meningkatkan sirkulasi darah dan produksi endorfin, hormon yang membuat tubuh lebih segar.
Duduk terlalu lama, terutama di depan layar, dapat menyebabkan kelelahan akumulatif.
Solusi:
Mulailah dengan berjalan cepat selama 30 menit setiap hari. Penelitian dari Harvard menunjukkan rutinitas ini bisa mengurangi risiko kelelahan hingga 25%.
7. Efek Samping Obat atau Gaya Hidup Tak Sehat
Beberapa obat seperti antihistamin atau antidepresan dapat memiliki efek samping berupa rasa lemas. Jika ditambah pola makan yang buruk atau konsumsi kafein berlebih, energi Anda akan naik-turun seperti roller coaster.
Rekomendasi:
Diskusikan dengan apoteker atau dokter jika Anda merasa obat yang dikonsumsi membuat tubuh lemas. Ganti camilan manis dengan buah segar untuk menstabilkan kadar gula darah.
Kelelahan bukan musuh abadi—asal Anda tanggap dan proaktif. Catat kebiasaan harian Anda: jam tidur, pola makan, tingkat stres. Jika gejala tetap berlanjut, jadwalkan konsultasi dengan dokter untuk mendapat diagnosis yang akurat.
Dengan langkah sederhana dan kesadaran penuh, Anda bisa memulihkan energi dan kembali produktif. Tetap sehat dan jaga vitalitas!