Pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bener Kaliboto 2, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, menyatakan komitmen dan tanggung jawab penuh atas insiden keluhan kesehatan massal yang menimpa ratusan siswa penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Selain menanggung seluruh biaya pengobatan para korban, pihak pengelola menyiapkan skema pemeriksaan kesehatan berantai (skrining) sebanyak empat kali serta evaluasi operasional dapur secara menyeluruh.
Kepala SPPG Bener Kaliboto 2, Ahmad Fathul Arifin, menegaskan bahwa koordinasi lintas sektor langsung diaktifkan begitu laporan gangguan kesehatan siswa mulai bermunculan.
“Begitu ada informasi, tim dapur langsung bergerak. Kami berkoordinasi dengan Korwil, Korcam, Dinas Kesehatan, hingga Puskesmas setempat agar seluruh penerima manfaat yang bergejala segera mendapatkan penanganan medis,” ujar Arifin, Jumat (25/9/2026).
Jamin Bebas Biaya Berobat dan Siap Ganti Rugi
Arifin memastikan seluruh fasilitas kesehatan dan penanganan yang berkaitan dengan insiden ini ditanggung sepenuhnya oleh SPPG bersama Pemerintah Kabupaten Purworejo. Masyarakat diimbau tidak mengkhawatirkan beban finansial selama masa pemulihan anak-anak mereka.
“Ditanggung SPPG semua. Penerima manfaat gratis saat berobat. Jika ada yang terlanjur mengeluarkan biaya mandiri, dapat diklaimkan kembali kepada kami, selama keluhan kesehatannya memang dipicu oleh konsumsi menu MBG,” jelasnya.
Guna mencegah penyalahgunaan klaim, pihak SPPG telah meminta instansi kesehatan dan sekolah terkait untuk terlebih dahulu mengonfirmasikan rincian biaya medis sebelum proses reimburse dilangsungkan.
Skrining Berkala 4 Kali dan Evaluasi Total Dapur
Sebagai langkah mitigasi jangka panjang, SPPG Bener Kaliboto 2 mengagendakan skrining kesehatan berkala sebanyak empat kali dalam kurun dua bulan ke depan (dua minggu sekali). Pada tahap awal, sebanyak 109 siswa di MI Kalipancer telah menjalani pemeriksaan fisik dasar.
Tak hanya fokus pada pemulihan fisik korban, internal SPPG juga membongkar total sistem kerja dapur guna menemukan akar permasalahan higienitas pangan.
“Sebagai bentuk pertanggungjawaban, kami melakukan evaluasi total terhadap operasional dapur serta jajaran staf yang terlibat dalam pengolahan masakan,” tegas Arifin.
Atas nama pengelola, Arifin menyampaikan permohonan maaf yang mendalam kepada para siswa, orang tua murid, dan masyarakat atas ketidaknyamanan dari tragedi tersebut. Ia memastikan penanganan cepat akan terus diberikan jika masih ditemukan siswa yang mengeluhkan gejala susulan.
Sebelumnya, ratusan anak di Kecamatan Bener mendadak mengalami gelombang diare massal, mual, serta pusing hebat usai mengonsumsi santapan MBG pada Kamis (17/9/2026). Kini, kondisi para siswa dilaporkan telah pulih secara bertahap dan mayoritas telah kembali beraktivitas di sekolah seperti biasa.