JAKARTA – PT Rekayasa Industri (Rekind) menekankan, sinergi yang solid dan tata kelola yang kuat menjadi kunci utama keberhasilan dalam setiap pelaksanaan proyek.
Prinsip ini dinilai krusial untuk menjaga kepercayaan para pemangku kepentingan, sekaligus memastikan setiap proyek berjalan secara optimal dan mampu menghadirkan nilai tambah jangka panjang bagi bangsa dan negara.
Penegasan tersebut disampaikan Direktur Operasi & Teknologi/Pengembangan Rekind Yusairi, saat digelar Quarterly Meeting ke-2 Proyek Soda Ash bersama perwakilan Direksi PT Pupuk Indonesia (Persero), Direktur Pengembangan PT Pupuk Kalimantan Timur (Kaltim) Mohamad Agung, Perwakilan dari Pupuk Indonesia dan sejumlah pejabat lainnya. Kegiatan ini berlangsung di Kompleks Kantor Pusat Rekind, Kalibata, Jakarta Selatan, Selasa (3/2).
“Dengan dukungan penuh dari PT Pupuk Kalimantan Timur dan PT Pupuk Indonesia (Persero), Rekind optimis Proyek Soda Ash Paket B dapat diselesaikan tepat waktu dan tepat mutu.”
“Lebih dari sekadar pencapaian proyek, inisiatif ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat rantai pasok dalam negeri, menekan ketergantungan terhadap impor soda ash, serta memperkokoh ketahanan industri nasional,” tegas Yusairi.
Proyek Soda Ash bukan sekadar proyek biasa, melainkan menjadi tonggak penting dalam transformasi bisnis Rekind menuju perusahaan EPC nasional yang lebih sehat, kompetitif, dan berkelanjutan.
“Karena peran strategis inilah, setiap langkah yang diambil harus melalui perencanaan matang dan dieksekusi secara optimal. Sebab keputusan terbaik adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar demi memastikan keberhasilan jangka panjang perusahaan,” terangnya.
Sejalan dengan komitmen tersebut, untuk diketahui, hingga cut-off date 19 Januari 2026 (Q2), kinerja Proyek Soda Ash terpantau berjalan on track dan masih dalam kondisi terkendali. Kemajuan proyek mampu melampaui target yang ditentukan dari rencana awal.
Berbagai capaian strategis pun berhasil direalisasikan, mulai dari rampungnya produksi material piling dan sudah dikirimkan ke lokasi proyek, saat ini pekerjaan piling untuk workshop building dan substation building sudah diselesaikan, hingga mulai aktifnya subcontractor civil work dalam mengerjakan tahapan pile head treatment dan lanjutan pekerjaan pondasi.
Capaian ini menjadi bukti nyata, strategi optimal yang diterapkan berjalan seiring dengan progres di lapangan.
Pengadaan material piping dan penunjukan subcontractor piping juga terlaksana dan memasuki tahap persiapan serta mobilisasi.
Seluruh progres dikelola melalui pengendalian proyek berbasis data sebagai wujud transparansi dan akuntabilitas kepada pemangku kepentingan.
Yusairi juga mengingatkan, keberhasilan proyek juga ditentukan oleh pengelolaan interface dengan EPC Paket A serta konsistensi pengawasan kinerja subcontractor, khususnya pada pekerjaan sipil dan struktur, guna memastikan mutu dan kepatuhan terhadap spesifikasi teknis.
Selain fokus pada capaian teknis, Yusairi juga menekankan pentingnya penerapan prinsip Health, Safety, Security, and Environment (HSSE), sebagai komitmen mutlak yang tidak dapat ditawar dalam pelaksanaan proyek strategis tersebut.
Aspek keselamatan kerja dan kualitas hasil menjadi fondasi utama untuk memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai standar tertinggi.
“Keselamatan kerja dan kualitas hasil pekerjaan adalah prioritas utama. Tidak ada kompromi dalam penerapan HSSE maupun standar mutu di seluruh tahapan proyek,” tegasnya.***
