LONDON – Final Wimbledon 2025 menyuguhkan episode baru dalam saga persaingan panas antara dua bintang muda tenis dunia: Carlos Alcaraz dan Jannik Sinner.
Pertemuan di partai puncak itu mencatat kemenangan penting bagi Sinner, yang berhasil memutus rekor lima kekalahan beruntun atas Alcaraz.
Duel ini tidak hanya mempertegas kualitas keduanya, tetapi juga menegaskan bahwa persaingan di level teratas kini telah mencapai fase yang lebih matang dan inspiratif.
Carlos Alcaraz, meski harus puas sebagai runner-up, tetap memancarkan semangat positif.
Ia menyebut kehadiran Sinner sebagai faktor pemicu dirinya untuk terus meningkatkan performa.
“Saya sangat, sangat senang bisa bersaing dengannya. Saya pikir ini bagus untuk kami dan bagus untuk tenis,” ujarnya dalam konferensi pers usai laga, sebagaimana dikutip dari laman resmi ATP.
Persaingan mereka dinilai Alcaraz telah menghadirkan level permainan luar biasa, yang jarang terlihat di antara petenis lain.
Ia menyebut setiap pertemuan dengan Sinner selalu menyuguhkan kualitas tinggi, bahkan mengklaim belum pernah melihat rivalitas lain dengan intensitas serupa.
“Setiap kali kami bertanding, saya rasa level kami sangat tinggi. Sejujurnya, saya rasa kami tidak pernah menyaksikan level seperti ini.”
“Saya tidak melihat ada pemain yang bertanding satu sama lain memiliki level seperti yang kami tunjukkan saat berhadapan.”
“Saya pikir, seperti yang sudah saya katakan berkali-kali, rivalitas ini semakin membaik. Kami sedang membangun persaingan yang sangat hebat karena kami akan bermain di final Grand Slam, final Masters – turnamen terbaik di dunia. Ini akan semakin baik,” ujar petenis berusia 22 tahun itu.
“Saya sangat bersyukur untuk itu karena memberi saya kesempatan untuk memberikan 100 persen kemampuan saya di setiap latihan, setiap hari, untuk menjadi lebih baik, berkat itu. Level yang harus saya pertahankan dan tingkatkan jika saya ingin mengalahkan Jannik sangat tinggi.”
Duel Alcaraz dan Sinner diprediksi akan terus memanas hingga 2026, terutama karena keduanya kini hanya terpaut satu gelar Grand Slam untuk menyempurnakan koleksi major mereka. Alcaraz tinggal membutuhkan satu trofi Australian Open, sementara Sinner menargetkan Roland Garros.
Kemenangan Sinner di London menjadi ajang balas dendam setelah kalah dramatis dari Alcaraz di final French Open sebulan sebelumnya.
Saat itu, Alcaraz menundukkan rivalnya dalam laga marathon selama lima jam 29 menit.
Namun kali ini, giliran Sinner yang membalas dengan kemenangan telak di All England Club, memperpendek selisih gelar major mereka menjadi 4-5.
Final Wimbledon kali ini juga menjadi kekalahan pertama Alcaraz di partai puncak Grand Slam. Namun, pengalaman tersebut tidak membuatnya larut dalam kekecewaan.
Ia justru mengaku lebih dewasa dalam menyikapi hasil buruk, berbeda dengan emosinya ketika kalah dari Novak Djokovic di final Olimpiade Paris 2024.
“Tahun lalu di Olimpiade, emosi saya benar-benar buruk setelah pertandingan itu. Sungguh, sangat sulit bagi saya untuk menerima momen itu. Saat ini, saya rasa setahun terakhir ini saya telah melalui berbagai situasi yang saya pelajari dari itu,” kata Alcaraz.
Dengan catatan musim ini yang mengesankan—48 kemenangan dan hanya 6 kekalahan—Alcaraz tetap menjadi pesaing utama Sinner di peringkat ATP.
Meski kini tertinggal 3.430 poin dari petenis asal Italia tersebut, potensi pertarungan mereka di sisa musim 2025 dan menuju Grand Slam berikutnya dipastikan akan semakin menarik untuk diikuti.***