JAKARTA – Di antara dataran penuh debu dan reruntuhan di Gaza Utara, berdiri bangunan yang kini menjadi simbol keteguhan hati: Rumah Sakit Indonesia, satu-satunya struktur besar yang masih utuh meski diterpa badai serangan tanpa henti.
Bangunan yang dibangun melalui donasi dan dukungan rakyat Indonesia ini tak sekadar menyediakan pelayanan medis bagi korban luka akibat konflik, tetapi juga menghadirkan harapan baru dalam lanskap kehancuran yang tampak tanpa akhir.
Laporan MER-C Indonesia, Jumat (6/2/2026) mengungkapkan dalam setiap lorong rumah sakit itu, denyut kehidupan masih terdengar, menjadi bukti nyata bahwa kemanusiaan bisa bertahan di tempat di mana hampir segalanya telah hilang.
Ironisnya, bahkan ketika dunia menyebut situasi itu sebagai “gencatan senjata,” suara dentuman masih menggema.
Serangan terbaru menghantam Kuwait Secondary School for Girls, sekolah yang bersebelahan langsung dengan Rumah Sakit Indonesia, mengubah sekitar menjadi lautan puing dan debu.
Kini, rumah sakit tersebut berdiri sendirian sebagai saksi bisu dari kehancuran yang melingkupi seluruh kawasan, memperlihatkan betapa rapuhnya perlindungan terhadap fasilitas sipil dalam perang yang tak berkesudahan.
Bagi warga Gaza, Rumah Sakit Indonesia bukan hanya tempat berobat; ia adalah benteng terakhir kehidupan, lambang keteguhan dan tali solidaritas umat manusia di tengah badai krisis yang mengguncang nurani dunia.
Dalam senyap yang menyelimuti reruntuhan bangunan lain, keberadaan rumah sakit ini menjadi penegasan bahwa empati, keberanian, dan kemanusiaan dapat berdiri lebih teguh daripada dinding beton mana pun.***
