Kematian seorang siswa SD di Demak baru-baru ini menjadi tamparan keras bagi kita semua. Unggahan terakhirnya yang berbunyi, “Di balik tawa gua, di sisi lain aku juga cape,” adalah sebuah jeritan minta tolong yang sering kali terlambat kita sadari.
Sebagai orang tua atau orang dewasa di sekitar anak, sering kali kita menganggap masalah anak kecil adalah hal sepele. Padahal, beban mental tidak mengenal usia. Berikut adalah beberapa warning signs (tanda bahaya) yang perlu kita waspadai sebelum terlambat:
1. Sinyal di Media Sosial (Digital Cry for Help)
Di era digital, anak-anak sering kali lebih berani mencurahkan isi hati di media sosial daripada bicara langsung. Waspadai jika anak:
-
Mengunggah kutipan bertema kematian, keputusasaan, atau rasa lelah yang ekstrem.
-
Membagikan tangkapan layar konflik keluarga atau makian yang mereka terima.
-
Menutup akun secara tiba-tiba atau justru menjadi sangat obsesif dengan konten gelap.
2. Perubahan Drastis pada Perilaku dan Emosi
Anak-anak mungkin belum bisa berkata, “Aku depresi.” Namun, perilaku mereka akan bicara, misalnya tiba-tiba menjadi sangat pendiam, mengurung diri di kamar, dan kehilangan minat pada hobi yang dulu ia sukai.
Anak mengalami perubahan tidur dan makan, tidur berlebihan atau justru sulit tidur, serta perubahan nafsu makan yang drastis. Anak juga menjadi sangat sensitif, mudah menangis, atau marah meledak-ledak tanpa alasan yang jelas.
3. Kalimat-Kalimat “Pamit” yang Tersembunyi
Jangan abaikan kata-kata yang terdengar seperti gurauan atau drama, seperti:
-
“Kalau aku nggak ada, mungkin semua lebih tenang.”
-
“Aku sudah capek sama semuanya.”
-
“Nanti titip mainanku ya, aku sudah nggak butuh.”
4. Gejala Fisik yang Berulang
Terkadang, depresi pada anak bermanifestasi menjadi keluhan fisik (psikosomatis). Anak sering mengeluh sakit perut, pusing, atau badan lemas secara berulang meski hasil pemeriksaan medis menunjukkan mereka sehat.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Gunakan Kalimat yang Membangun, Bukan Memukul : Luka fisik bisa sembuh, namun luka karena kata-kata kasar dari orang tua (orang yang seharusnya menjadi pelindung) bisa merobek harga diri anak hingga ke akarnya. Sebelum marah, tarik napas dan ingatlah bahwa anak adalah peniru, bukan pemukul beban.
Jadilah Pendengar Tanpa Menghakimi: Saat anak bercerita, taruh ponsel Anda, tatap matanya, dan dengarkan tanpa langsung memotong dengan nasihat atau amarah.
Validasi Perasaan Mereka: Katakan, “Ayah/Ibu mengerti kamu sedang merasa sulit,” daripada mengatakan “Halah, baru gitu aja sudah menyerah.”
Ciptakan Rumah Sebagai Ruang Aman: Pastikan anak tahu bahwa apa pun kesalahan yang mereka buat, rumah adalah tempat paling aman untuk mereka pulang, bukan tempat di mana mereka akan dicaci maki.
