JATENG — Kemarau datang membawa perubahan pada wajah Waduk Gajah Mungkur. Ketika permukaan air perlahan surut, sesuatu yang selama puluhan tahun terbenam kembali menampakkan diri. Dari tanah dasar waduk yang mulai mengering, puluhan nisan tua muncul satu per satu, seperti potongan masa lalu yang kembali pulang.
Nisan-nisan dari batu kapur itu berdiri dalam kesunyian. Sebagian berukuran sekitar setengah meter, sementara lainnya membentang hingga dua meter. Ada yang masih kokoh, tetapi tak sedikit yang telah terkikis oleh waktu dan lamanya terendam air.
Pada beberapa batu, jejak ukiran dan tulisan lama masih terlihat. Namun, sebagian besar telah begitu pudar hingga nama-nama yang pernah terpatri di sana nyaris tak lagi dapat dikenali.
Makam-makam tersebut bukanlah pemandangan baru. Setiap kali musim kemarau tiba dan air Waduk Gajah Mungkur menyusut, jejak pemakaman lama itu kembali muncul dari dasar waduk.
Di balik kemunculannya, tersimpan kisah panjang tentang perubahan besar yang pernah terjadi di Wonogiri.
Puluhan tahun lalu, sebanyak 51 desa yang berada di tujuh kecamatan harus ditenggelamkan untuk pembangunan Waduk Gajah Mungkur. Rumah-rumah, lahan, kenangan, hingga makam leluhur harus ditinggalkan ketika wilayah tersebut perlahan berubah menjadi genangan air.
Kini, ketika kemarau membuat air waduk mundur, bagian dari tanah yang pernah menjadi ruang hidup masyarakat itu kembali terlihat. Seolah untuk sesaat, masa lalu diberi kesempatan untuk bernapas dan menyapa kembali mereka yang masih mengingatnya.
Camat Wuryantoro Soemardjono Fadjari mengatakan kemunculan makam-makam tersebut merupakan fenomena yang berulang setiap tahun. Namun, tahun ini proses surutnya air berlangsung lebih lambat.
“Setiap kemarau biasanya makam-makam itu mulai terlihat, tapi ini baru sebagian, karena airnya masih cukup tinggi,” tutur Soemardjono.
Menurut dia, biasanya nisan-nisan lama tersebut mulai terlihat sejak Agustus. Akan tetapi, hingga September, belum seluruh makam muncul ke permukaan karena air waduk masih cukup tinggi.
“Biasanya Agustus sudah mulai kelihatan. Tahun ini surutnya agak lambat, sehingga belum semuanya muncul,” lanjutnya.
Meski menyimpan jejak sejarah yang kuat, kemunculan makam-makam tersebut belum serta-merta menjadikannya tujuan wisata yang ramai. Lokasinya yang berada di dasar waduk membuat perjalanan menuju area tersebut tidak mudah.
Pengunjung harus melewati tanah yang mengering dengan kondisi yang masih berlumpur dan becek di sejumlah titik. Kondisi itu membuat kawasan makam lama tersebut tetap terasa sunyi, jauh dari hiruk-pikuk tempat wisata.
Karni, warga sekitar, mengatakan hanya sedikit orang yang datang ke lokasi tersebut untuk melihat atau mengabadikan kemunculan makam-makam lama itu.
“Belum [banyak wisatawan yang datang], paling satu dua orang datang foto-foto saja. Kebanyakan yang ke sini ya orang mancing, sama [petani] ke sawah,” kata Karni.
Di tengah kesunyian itu, nisan-nisan tua tersebut kembali berdiri di atas tanah yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Wonogiri.
Kemunculannya bukan sekadar akibat air waduk yang surut. Lebih dari itu, deretan batu nisan tersebut menjadi pengingat bahwa sebelum Waduk Gajah Mungkur membentang luas, pernah ada rumah, kampung, sawah, dan makam yang menjadi bagian dari kehidupan warga.
Setiap kemarau datang dan air perlahan menyingkir, sebagian jejak itu kembali terlihat. Untuk sesaat, makam-makam tua tersebut seperti membuka kembali lembaran masa lalu yang selama bertahun-tahun tersimpan di bawah permukaan air.
Lalu, ketika musim berganti dan waduk kembali terisi, nisan-nisan itu akan kembali tenggelam. Menyisakan kenangan tentang sebuah tanah yang pernah dihuni, dicintai, dan akhirnya dikorbankan demi sebuah pembangunan.