Keceriaan pertandingan hoki es remaja di Pawtucket, Rhode Island, berubah menjadi horor berdarah pada Senin siang. Suara letusan senjata api yang memekakkan telinga mendadak bergema di tengah arena yang penuh sesak, menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai tiga lainnya.
Pihak kepolisian mengonfirmasi bahwa pelaku penembakan, Robert K. Dorgan (yang juga dikenal dengan nama Roberta Esposito), tewas di lokasi kejadian setelah mengarahkan senjata ke dirinya sendiri. Menurut laporan awal, serangan ini diduga kuat sengaja menargetkan anggota keluarganya sendiri yang sedang berada di tribun penonton.
Insiden ini terjadi hanya dua bulan setelah tragedi serupa di Universitas Brown yang masih menyisakan luka mendalam bagi warga Rhode Island.
Mencekam: Pemain Bertumbangan Mencari Perlindungan
Rekaman dari layanan streaming LiveBarn menangkap momen mengerikan saat tembakan dilepaskan dari balik bangku pemain di tengah pertandingan. Setidaknya 12 tembakan terdengar, memicu kepanikan luar biasa.
Para atlet remaja yang masih mengenakan sepatu roda hoki terlihat melompat ke arah ring dan merangkak menuju ruang ganti demi menghindari peluru.
Di tengah kekacauan tersebut, seorang warga sipil nekat mencoba melumpuhkan pelaku. Kepala Polisi Pawtucket, Tina Goncalves, memuji aksi heroik yang membuat korban penembakan tidak jatuh lebih banyak.
Duka di ‘Senior Night’
Pertandingan tersebut seharusnya menjadi malam istimewa bagi para siswa tingkat akhir (Senior Night). Namun, momen yang seharusnya penuh perayaan itu kini bersimbah darah. Tiga korban luka saat ini dalam kondisi kritis di Rumah Sakit Rhode Island—fasilitas yang sama yang merawat korban penembakan Universitas Brown dua bulan lalu.
Hingga saat ini, sekolah-sekolah yang terlibat mengonfirmasi bahwa seluruh siswa yang bertanding dalam kondisi selamat, meski luka psikis tak terhindarkan.
Tragedi ini mencatat sejarah kelam sebagai penembakan massal ke-41 di Amerika Serikat hanya dalam 47 hari pertama tahun 2026.
Pihak berwenang dari Biro Alkohol, Tembakau, Senjata Api, dan Bahan Peledak (ATF) kini telah turun tangan membantu kepolisian setempat untuk menyusun kronologi lengkap di balik aksi brutal yang terjadi pada pukul 14.30 waktu setempat ini.