JAKARTA – Serangan 91 pesawat nirawak (drone) terhadap kediaman Presiden Rusia, Vladimir Putin di wilayah Novgorod disebut sebagai provokasi berbahaya. Pakar militer, Alexy Leonkov menilai aksi tersebut tidak mungkin dilakukan tanpa keterlibatan kelompok keras Eropa.
“Zelensky tidak akan berani merencanakan atau melaksanakan operasi semacam itu sendirian,” kata Leonkov kepada Sputnik, Rabu (31/12). Ia menambahkan, serangan itu membutuhkan perencanaan rumit dan waktunya dirancang agar Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memiliki alibi saat berada di AS untuk bertemu Presiden Donald Trump.
Leonkov menekankan bahwa serangan tersebut bukan hanya menyasar presiden, melainkan juga pusat kendali senjata nuklir. “Itu adalah serangan terhadap simpul komunikasi yang memungkinkan kepala negara mengeluarkan perintah penggunaan kekuatan nuklir,” ujarnya.
Drone Picu Konflik
Menurutnya, tujuan utama provokasi ini adalah memicu konflik antara AS dan Rusia. “Perhitungannya jelas: paling buruk memprovokasi konflik global, paling tidak mengganggu proses negosiasi antara AS dan Rusia. Kelompok garis keras Eropa, khususnya Inggris, menyukai skenario ini,” kata Leonkov.
Ia juga menyinggung pernyataan Zelensky sebelumnya yang dianggap sebagai indikasi mengetahui serangan tersebut. Pada konferensi pers 18 Desember, Zelensky mengatakan “politisi berubah, seseorang hidup, seseorang mati,” dan pada malam Natal ia menyerukan doa untuk kematian Presiden Rusia Vladimir Putin.
“Semua ini menunjukkan bahwa Zelensky menyadari serangan yang akan datang, tetapi memainkan peran yang ditugaskan kepadanya – berpura-pura tidak ada hubungannya dengan itu dan ‘mendukung perdamaian‘,” tegas Leonkov.
Leonkov menutup analisisnya dengan menyebut dua hal pasti: Rusia akan merespons dengan tepat, dan respons itu sudah ditentukan target serta waktunya. Namun, ia menekankan bahwa langkah tersebut tidak akan mengganggu proses negosiasi antara Rusia dan AS.