Lembaga pengawas konsumen Foodwatch resmi mengajukan pengaduan pidana di Paris terhadap tujuh produsen susu formula bayi, termasuk Nestlé, Danone, dan Lactalis.
Langkah ini memicu konfrontasi hukum terbuka, menyusul tudingan bahwa para produsen menunjukkan “kelalaian yang mengkhawatirkan” dalam menangani krisis kontaminasi global yang berdampak pada bayi.
Ketegangan meningkat pekan lalu setelah Nestlé merilis surat terbuka yang secara tegas membantah tuduhan Foodwatch, sekaligus memperingatkan kemungkinan langkah hukum atas pernyataan yang dinilai menyesatkan.
Dalam klarifikasinya, Nestlé mengakui adanya jeda sekitar 10 hari antara deteksi awal toksin cereulide pada akhir November 2025 dan pemberitahuan resmi kepada otoritas pada 10 Desember 2025. Perusahaan beralasan jeda tersebut diperlukan untuk melakukan analisis risiko kesehatan secara menyeluruh.
Pengaduan Pidana dan Tuduhan Serius
Pengaduan pidana Foodwatch diajukan dengan mekanisme “contre X”—prosedur hukum Prancis untuk perkara dengan tersangka yang belum ditetapkan. Laporan tersebut menyoroti delapan dugaan pelanggaran, mulai dari membahayakan kesehatan bayi, penipuan yang diperberat, hingga kelalaian dalam melakukan penarikan produk secara tepat waktu.
Sebanyak delapan keluarga turut bergabung dalam pengaduan ini. Mereka mengklaim bayi mereka mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi susu formula yang kemudian ditarik dari peredaran, termasuk merek Guigoz milik Nestlé, Picot dari Lactalis, serta sejumlah produk lain yang terdampak.
“Tidak ada alasan yang dapat dibenarkan atas keterlambatan penarikan produk ini,” ujar Ingrid Kragl, Direktur Informasi dan Riset Foodwatch. Ia menuding para produsen meremehkan skala masalah dan menyangkal keterkaitan antara konsumsi susu formula yang ditarik dengan gejala serius yang dialami sejumlah bayi.
Nestlé kembali menepis tuduhan tersebut. Dalam pernyataannya, perusahaan menegaskan telah bertindak cepat pada Desember dan Januari segera setelah masalah teridentifikasi, serta mengklaim tidak menerima laporan medis yang secara definitif mengaitkan produknya dengan kasus penyakit bayi.
Kronologi Kontaminasi Jadi Sorotan
Berdasarkan penjelasan Nestlé, kontaminasi terdeteksi melalui pemeriksaan rutin di fasilitas produksinya di Belanda pada akhir November 2025, tak lama setelah pemasangan peralatan baru.
Uji internal menemukan kadar cereulide yang sangat rendah, mendorong perusahaan untuk segera menghentikan produksi. Namun, pemberitahuan kepada otoritas baru dilakukan setelah hasil konfirmasi laboratorium diterima.
Sejak itu, penarikan produk telah meluas ke lebih dari 60 negara. Investigasi internal menelusuri sumber kontaminasi pada minyak asam arakidonat yang dipasok oleh perusahaan asal China, Cabio Biotech. Nestlé menyatakan telah mengidentifikasi bahan tersebut sebagai sumber kontaminasi pada 23 Desember, dan menyampaikan informasi itu kepada asosiasi industri pada 30 Desember.
Sementara itu, jaksa Prancis di Bordeaux dan Angers telah membuka penyelidikan pidana terpisah terkait kematian dua bayi yang diketahui mengonsumsi susu formula yang ditarik. Meski demikian, otoritas menegaskan bahwa hingga kini belum ada hubungan sebab-akibat yang terbukti secara hukum.
Standar Keamanan Diperketat di Eropa
Di tengah meningkatnya tekanan publik, Badan Keamanan Pangan Eropa (EFSA) pada Senin menerbitkan panduan baru yang merekomendasikan ambang batas cereulide sebesar 0,014 mikrogram per kilogram berat badan bayi—sejalan dengan standar ketat yang lebih dulu diterapkan Prancis. Pedoman ini berpotensi memicu penarikan produk tambahan di berbagai negara Eropa.
François Lafforgue, pengacara yang mewakili Foodwatch dan keluarga terdampak, menegaskan bahwa tanggung jawab produsen terlihat jelas. Ia mengingatkan bahwa pengaduan serupa di masa lalu terhadap Nestlé dan Lactalis telah berujung pada penetapan dakwaan, memperkuat peluang kasus ini berlanjut ke tahap hukum yang lebih serius.
