JAKARTA – Pemerintah Spanyol membatalkan dua kontrak pertahanan besar dengan perusahaan Israel senilai hampir €1 miliar (sekitar Rp18,29 triliun), sebagai bagian dari kebijakan baru yang ditegaskan oleh Perdana Menteri Pedro Sanchez untuk menekan Israel terkait agresinya di Gaza.
Menurut laporan kantor berita EFE pada Senin (15/9/2025), Kementerian Pertahanan Spanyol membatalkan pembelian sistem peluncur roket Silam dan rudal anti-tank Spike senilai €987,5 juta. Kontrak tersebut sebelumnya diberikan kepada PAP Tecnos Innovacion SA, anak perusahaan Rafael, perusahaan pertahanan Israel yang berbasis di Spanyol.
Proses resmi pembatalan saat ini sedang dirampungkan dan diharapkan akan disetujui pekan depan. Pemerintah juga sedang menyusun strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi militer Israel serta mencari alternatif baru.
Kebijakan ini sejalan dengan langkah tegas yang diumumkan Pedro Sanchez pekan lalu, termasuk embargo senjata permanen terhadap Israel, pelarangan masuk terhadap menteri kabinet Israel yang ekstremis, serta larangan impor dari wilayah Palestina yang diduduki. Total ada sembilan kebijakan yang digulirkan sebagai bentuk penolakan terhadap tindakan militer Israel di Gaza.
Sejak Oktober 2023, konflik bersenjata Israel di Gaza telah menyebabkan hampir 65.000 orang tewas dan menghancurkan sebagian besar wilayah tersebut, yang kini menghadapi ancaman kelaparan masif.
Situasi ini juga menjadi perhatian komunitas internasional. Pada Selasa lalu, Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB menyimpulkan bahwa tindakan Israel di Gaza telah memenuhi unsur genosida.
“Jelas ada niat untuk menghancurkan warga Palestina di Gaza melalui tindakan yang memenuhi kriteria yang ditetapkan dalam Konvensi Genosida,” ujar Navi Pillay, ketua komisi tersebut.
Secara terpisah, Israel juga tengah menghadapi gugatan genosida yang diajukan di Mahkamah Internasional atas aksi militernya di wilayah Gaza.
