LUMAJANG – Gunung Semeru di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, mengalami lima kali erupsi pada Senin malam, 12 Oktober 2026, dengan letusan tertinggi mencapai 1.000 meter di atas puncak.
Aktivitas vulkanik tersebut terpantau sejak pukul 18.35 WIB hingga 20.08 WIB, dengan tinggi kolom abu berkisar 600–1.000 meter di atas puncak.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, melaporkan bahwa letusan pertama terjadi pukul 18.35 WIB dengan kolom abu setinggi sekitar 700 meter yang bergerak ke arah barat daya.
“Letusan pertama terjadi pada pukul 18.35 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 700 meter di atas puncak.”
“Abu vulkanik teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang dan bergerak ke arah barat daya,” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto dalam keterangannya, di Lumajang, Jawa Timur, Selasa (13/10/2026).
Erupsi kedua tercatat pada pukul 18.41 WIB dengan ketinggian kolom letusan sekitar 600 meter di atas puncak.
Aktivitas kembali terjadi pukul 19.44 WIB dengan kolom abu setinggi 700 meter yang bergerak ke arah barat.
Sebelas menit kemudian, tepatnya pukul 19.55 WIB, Semeru kembali meletus dengan kolom abu mencapai 800 meter di atas puncak.
Letusan kelima terjadi pukul 20.08 WIB dan menjadi yang tertinggi dalam rangkaian tersebut, dengan kolom abu setinggi 1.000 meter berwarna putih hingga kelabu serta berintensitas sedang ke arah barat.
“Saat laporan berkala dibuat, aktivitas vulkanik dan erupsi tercatat masih terus berlangsung,” ujar Liswanto.
Status Semeru Masih Level III Siaga
Di tengah rangkaian erupsi tersebut, status aktivitas Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya vulkanik.
Petugas melarang warga dan pengunjung melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak karena kawasan tersebut berisiko terkena lontaran batu pijar.
Pembatasan juga berlaku di sektor tenggara, terutama sepanjang aliran Besuk Kobokan yang berpotensi dilanda awan panas guguran dan lahar.
“Berjarak di luar 13 km, warga dilarang mendekati area 500 meter dari tepi sungai sepanjang Besuk Kobokan. Karena berpotensi terjangan awan panas guguran (APG) dan lahar hingga radius 17 km,” katanya.
Waspadai Awan Panas dan Banjir Lahar
Selain lontaran material vulkanik, masyarakat perlu mengantisipasi ancaman awan panas guguran, guguran lava, serta banjir lahar yang dapat membahayakan permukiman dan aktivitas warga.
Potensi bahaya tersebut perlu diwaspadai di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru, terutama Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Sat, serta anak-anak sungai di sekitarnya.
Warga diminta tidak memasuki zona berbahaya, mematuhi seluruh rekomendasi petugas, dan mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Semeru melalui kanal informasi resmi.
Kewaspadaan perlu dipertahankan selama status Siaga masih berlaku, khususnya ketika hujan turun di kawasan puncak yang dapat meningkatkan risiko aliran lahar di sungai-sungai berhulu Semeru.***