Hujan deras yang mengguyur kawasan Jabodetabek sejak Kamis (22/1/2026) memicu banjir meluas di Bekasi dan Tangerang. Bencana ini memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Di Tangerang, banjir memburuk setelah tanggul Kali Angke jebol pada Jumat (23/1/2026) sekitar pukul 05.30 WIB. Jebolnya tanggul tersebut membuat air bah mengalir deras ke permukiman warga di Perumahan Pinang Griya, merendam ratusan rumah dalam waktu singkat.
Curah hujan tinggi yang terjadi secara terus-menerus menyebabkan sejumlah sungai meluap dan menggenangi kawasan permukiman di berbagai titik. Di beberapa lokasi, ketinggian air dilaporkan mencapai hingga 1,5 meter.
Tanggul Kali Angke Jebol, Ribuan Warga Mengungsi
Insiden jebolnya tanggul Kali Angke berdampak langsung pada 550 rumah di RW 6, Kelurahan Pinang. Sebanyak 1.800 jiwa tercatat terdampak banjir.
Kapolsek Pinang, Iptu Adityo Wijanarko, menjelaskan jarak rumah warga yang sangat dekat dengan tanggul membuat air langsung masuk ke permukiman tanpa sempat dibendung.
“Sementara seluruh warga diminta meninggalkan lokasi dan mengungsi ke rumah kerabat terdekat maupun balai warga,” ujarnya.
Pemerintah Kota Tangerang memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Wali Kota Tangerang Sachrudin menyebutkan pemerintah daerah telah menyiapkan tiga pos pengungsian, pos layanan kesehatan, serta dapur umum untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak.
Bekasi: Puluhan Ribu Warga Terdampak Banjir
Sementara itu di Kabupaten Bekasi, banjir melanda 20 kecamatan dan menggenangi 31 desa. Kepala BPBD Kabupaten Bekasi, Muchlis, menyatakan sekitar 21.260 warga terdampak, dengan 270 orang terpaksa mengungsi.
Genangan terdalam tercatat di Desa Lenggahsari, Kecamatan Cabangbungin, dengan ketinggian air antara 50 hingga 110 sentimeter. Banjir juga merendam sekitar 3.900 hektare lahan pertanian yang berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi cukup besar.
Di Kota Bekasi, sembilan kecamatan dilaporkan terendam banjir. Kondisi terparah terjadi di Perumahan Jatibening Permai, Kecamatan Pondok Gede, dengan ketinggian air mencapai 150 sentimeter.
Untuk membantu warga, Brimob Polda Metro Jaya mendirikan dapur lapangan di wilayah Cikarang Utara guna menyediakan makanan bagi para pengungsi.
Respons Darurat dan Imbauan Waspada
Komandan Satuan Brimob Polda Metro Jaya, Kombes Henik Maryanto, menegaskan kehadiran aparat di lokasi bencana merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat.
“Kami berupaya hadir di momen-momen penuh tantangan seperti ini untuk memastikan warga mendapatkan bantuan yang dibutuhkan secara cepat dan tepat,” ujarnya.
BPBD bersama aparat keamanan terus melakukan pemantauan dan evakuasi, dengan memprioritaskan kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan perempuan. Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi banjir susulan dan mengikuti arahan petugas di lapangan.
