Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), Agus Andrianto, melakukan kunjungan kerja strategis ke Pulau Nusakambangan, Jawa Tengah. Kunjungan ini bertujuan untuk meninjau program ketahanan pangan nasional di lingkungan Lapas serta mengecek kesiapan infrastruktur terkait rencana pembangunan Mega Prison yang menjadi salah satu prioritas Presiden RI.
Dalam kunjungan tersebut, Menteri Agus Andrianto meninjau secara menyeluruh ekosistem kemandirian di Lapas Nusakambangan, yang mencakup sektor pertanian, peternakan, perikanan, hingga perkebunan.
Sebagai bentuk penguatan sektor perikanan, Menteri Agus berkesempatan melepaskan benih ikan sidat serta menyaksikan langsung inovasi pengelolaan sampah menjadi pupuk organik yang dilakukan oleh warga binaan.
“Kunjungan ini merupakan bagian dari sinergi kami bersama Panitia Kerja (Panja) Pemasyarakatan Komisi XIII DPR RI. Kami ingin menunjukkan secara transparan apa yang telah dilakukan jajaran Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dalam membina warga binaan agar memiliki keahlian yang produktif,” ujar Menteri Agus Andrianto.
Kesiapan Infrastruktur Mega Prison Terkait rencana besar pemerintah membangun Mega Prison, Menteri Agus menegaskan bahwa Pulau Nusakambangan menjadi alternatif utama. Pertimbangan ini didasarkan pada efisiensi waktu dan kesiapan fasilitas pendukung yang sudah ada.
“Sesuai rekomendasi yang kami sampaikan kepada Bapak Presiden, Nusakambangan adalah pilihan rasional. Jika kita membangun di pulau lain, mungkin dalam empat tahun belum tentu selesai karena harus membangun fasilitas dari nol. Di sini, fondasinya sudah kuat,” tegasnya.
Apresiasi Komisi XIII DPR RI Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya, yang turut serta dalam peninjauan tersebut, memberikan apresiasi tinggi terhadap implementasi pembinaan di Nusakambangan. Ia menilai pengelolaan di bawah kepemimpinan Menteri Agus Andrianto sangat progresif dan aplikatif.
“Kami sangat terkesan, ini benar-benar Pak Menteri punya ‘tangan dingin’. Kita melihat semangat KUHAP baru tentang pidana sosial sudah langsung dipraktikkan di sini, bukan sekadar wacana. Mulai dari tambak sidat, udang, ayam, hingga pengolahan sampah di BLK (Balai Latihan Kerja), semuanya menunjukkan produktivitas nyata,” ungkap Willy Aditya.
Kunjungan kerja ini diharapkan memperkuat koordinasi antara eksekutif dan legislatif dalam mendukung transformasi sistem pemasyarakatan yang lebih modern, manusiawi, dan berkontribusi langsung pada agenda ketahanan pangan nasional.
