JAKARTA – Tradisi ziarah kubur menjelang Ramadan 1447 Hijriah kembali menunjukkan pola yang beragam di Jakarta.
Di TPU Cipinang Besar, Kebon Nanas, Jakarta Timur, keramaian mulai terasa dengan ratusan keluarga yang berdatangan untuk membersihkan makam, menabur bunga, dan mendoakan leluhur. Sebaliknya, TPU Karet Bivak di Jakarta Pusat masih sepi, membuat pedagang kembang tabur mengeluhkan penurunan pendapatan akibat kondisi ekonomi yang belum pulih.
Lonjakan pengunjung di Cipinang Besar terlihat sejak beberapa hari terakhir. Para peziarah datang bersama keluarga lintas generasi, membawa peralatan sederhana seperti sapu lidi dan pacul, serta membeli bunga mawar sebagai simbol penghormatan. Aktivitas ini tidak hanya menjadi ritual spiritual, melainkan juga momen mempererat ikatan keluarga dan mengenalkan generasi muda pada leluhur mereka.
“Iya mengalami peningkatan dari jumlah peziarah,” kata salah satu petugas kebersihan Enju (49) saat ditemui di TPU Cipinang, Jakarta Timur, Sabtu (14/2/2026). Enju menambahkan, “Ini masih belum seberapa, nanti akan semakin ramai di hari mendekati Ramadan,” mengingat sidang isbat penetapan awal Ramadan oleh Kementerian Agama baru akan digelar pada Selasa, 17 Februari 2026.
Di lokasi yang sama, pedagang bunga dan air mawar melaporkan peningkatan penjualan signifikan. Bunga mawar dijual dengan harga terjangkau Rp5.000 per kantong, sehingga mudah diakses masyarakat. “Penjualan bunga Alhamdulillah meningkat. Sehari bisa meraup untung sampai Rp2 juta,” ujar Enju.
Bagi peziarah seperti Ara, ziarah menjadi cara menyembuhkan rindu sekaligus menyambut bulan puasa dengan hati lebih lapang. “Iya, saya hadir dengan anak saya yang baru lahir. Dia belum sempat bertemu dengan neneknya,” tutur Ara.
Berbeda cerita di TPU Karet Bivak, di mana pedagang kembang tabur mengalami sepi pembeli meski sudah membuka lapak sejak awal Februari. Anis (48), yang berjualan sejak Kamis, mengatakan pendapatan masih fluktuatif tergantung jam ramai. “Sama saja sih, kalau dia lagi ramai ya naik. Baru sekarang ini mulai ada yang beli, entar ramai-ramai paling sore,” kata Anis di lapaknya, Sabtu (14/2/2026).
Meiska, pedagang lain yang sudah tiga tahun berjualan bersama adiknya, membandingkan dengan tahun sebelumnya yang jauh lebih ramai. “Kalau 2 tahun yang lalu ramai-ramai. Kalau tahun ini rasanya agak sepi,” ujarnya. Ia menduga penurunan ini dipengaruhi kondisi ekonomi masyarakat yang memengaruhi daya beli. “Memang lagi dampak dari keuangan negara ini agak merosot, jadi dampaknya juga sama pembeli. Penjual-penjual, pembelinya kurang. Iya, kurang ramai,” tambah Meiska.
Meski demikian, pedagang tetap menjaga harga kompetitif: Rp10.000 per bungkus kembang tabur berisi mawar merah, putih, dan irisan pandan, serta Rp5.000 per botol air mawar. Meiska mengatur stok harian agar tidak berlebih, dan bersyukur masih bisa meraup keuntungan bersih Rp200.000 hingga Rp300.000 per hari. “Kayak kemarin Ibu dapat ya sudah bersyukur banget, makanya kan dapat 200, 240. Kalau sekarang ini sudah ada 300 lebih. Bersih saya dapat,” pungkasnya.
Kontras keramaian di dua lokasi pemakaman ini mencerminkan dinamika persiapan spiritual masyarakat Jakarta menghadapi Ramadan 2026. Sementara sebagian wilayah menikmati peningkatan aktivitas dan ekonomi lokal, tantangan ekonomi nasional masih membayangi daerah lain. Dengan sidang isbat Kementerian Agama yang tinggal beberapa hari lagi, diharapkan lonjakan ziarah akan semakin merata di berbagai TPU ibu kota, sebagai bagian dari tradisi menyucikan hati menyambut bulan puasa.
