JAKARTA – Dua puluh empat tahun lalu, pada 22 Juli 2001, dua terjadi ledakan bom mengguncang dua gereja di Jakarta Timur, mencatatkan sejarah kelam aksi terorisme di Indonesia.
Gereja Santa Anna di Duren Sawit dan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Jatiwaringin menjadi sasaran serangan brutal yang menewaskan lima orang dan melukai puluhan lainnya saat ibadah Minggu pagi berlangsung.
Sekitar pukul 07.00 WIB, ledakan pertama terjadi di halaman parkir Gereja HKBP Jatiwaringin, menghancurkan satu mobil dan merusak beberapa kendaraan lain.
Satu orang terluka dalam insiden ini. Berselang beberapa menit, pada pukul 07.05 WIB, ledakan kedua yang lebih dahsyat mengguncang bagian dalam Gereja Santa Anna, menewaskan lima jemaat dan melukai banyak orang yang sedang mengikuti misa.
“Ledakan sangat keras sehingga asap hitam menyelimuti ruangan gereja,” ungkap seorang saksi mata, menggambarkan kepanikan saat jendela pecah dan bangku-bangku gereja hancur.
Serangan ini, yang dikaitkan dengan jaringan teroris Islam, mengguncang Indonesia dan menyoroti kerentanan tempat ibadah. Pendeta Makmur G.H. Tampubolon, yang sedang berkhotbah di HKBP saat bom meledak di luar, mengenang keteguhan jemaatnya.
“Ibadah Minggu pagi itu masih berlangsung,” memastikan sebagian besar jemaat aman di dalam gereja, sehingga korban jiwa tidak bertambah.
Pihak berwenang menyebut Noor Misuari dan Asep sebagai tersangka utama dalam serangan ini, yang merupakan bagian dari gelombang kekerasan ekstremis di Indonesia pada awal 2000-an.
Tragedi ini mendorong peningkatan keamanan, dengan Gereja Santa Anna kemudian memasang detektor logam untuk mencegah serangan serupa di masa depan.
Peristiwa ini tetap menjadi pengingat kelam akan pentingnya persatuan dan kewaspadaan terhadap ekstremisme. Ketangguhan komunitas yang terdampak terus menginspirasi, saat mereka bangkit dan memperkuat ikatan antaragama di tengah cobaan.