ISTANBUL – Pada hari ketiga pembukaan gerbang perbatasan, truk-truk yang membawa bantuan kemanusiaan kembali memasuki Jalur Gaza melalui perlintasan Rafah yang dikuasai Mesir, lapor media Mesir pada Selasa (29/7/2025). Bantuan yang dibawa meliputi makanan pokok, pasokan medis, dan bahan-bahan penting lainnya untuk mendukung warga sipil Gaza yang tengah terperangkap dalam krisis yang terus memburuk.
Menurut saluran berita Al-Qahera, Mesir kini menyuplai hampir 80 persen dari total bantuan kemanusiaan yang sedang dikirimkan ke Gaza. Kehadiran truk-truk bantuan di perbatasan ini menjadi penanda penting bagi warga Gaza yang terperangkap di tengah blokade ketat yang diberlakukan oleh Israel sejak lebih dari 18 tahun lalu.
Blokade Israel dan Krisis Kelaparan yang Memburuk
Pada hari Senin (28/7/2025), sejumlah truk bantuan mulai memasuki Gaza melalui perlintasan Rafah, yang berfungsi sebagai jalur vital satu-satunya bagi pasokan yang sangat dibutuhkan. Sebuah rekaman video yang diambil oleh juru kamera Anadolu memperlihatkan truk-truk bantuan tersebut melintas menuju wilayah kantong Gaza yang dikepung.
Di tengah situasi yang semakin mengkhawatirkan, pihak berwenang Palestina menyatakan bahwa Gaza membutuhkan sekitar 600 truk bantuan setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan 2,4 juta penduduknya. Meskipun begitu, pasokan bantuan ini masih sangat jauh dari cukup untuk mengatasi dampak krisis kelaparan yang terus meluas.
Krisis Kemanusiaan yang Memburuk dan Seruan Internasional yang Dilanggar
Israel telah memblokade Gaza sejak 2007, dan sejak 2 Maret lalu, pihak berwenang Israel menutup hampir semua pintu perlintasan, menghalangi masuknya konvoi bantuan internasional. Meski dunia internasional telah menyerukan pembukaan kembali akses bantuan, Israel tetap menolak seruan tersebut. Penutupan perlintasan dan penghalangan bantuan semakin memperburuk kondisi warga Gaza yang kini menderita kelaparan akibat blokade tersebut.
Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, setidaknya 147 orang telah meninggal akibat kelaparan sejak Oktober 2023, dengan lebih dari separuh korban adalah anak-anak. Dalam situasi yang sangat mengerikan ini, hampir 60.000 warga Palestina tewas akibat serangan brutal Israel sejak 7 Oktober 2023. Kebanyakan korban adalah wanita dan anak-anak.
Pengadilan Internasional dan Tuduhan Kejahatan Perang
Krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza juga telah menarik perhatian dunia internasional. Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) pada November lalu mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant, dengan tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Selain itu, Israel juga menghadapi tuntutan di Mahkamah Internasional terkait kasus genosida atas perangnya di Gaza.
Di tengah situasi yang semakin memburuk, komunitas internasional terus menekan agar gencatan senjata segera diberlakukan dan akses bantuan kemanusiaan dibuka tanpa hambatan, namun Israel tetap pada pendiriannya untuk mempertahankan blokade.
