JAKARTA – Tri Cahyaningsih, seorang buruh pabrik tekstil dari Boyolali, Jawa Tengah, meraih skor tertinggi dalam Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) Calon Pegawai Negeri Sipil / CPNS 2024 untuk formasi penjaga tahanan di Kementerian Hukum dan HAM.
Namun, mimpi Tri Cahyaningsih menjadi abdi negara kandas karena tinggi badannya kurang 0,5 sentimeter dari syarat minimal yang ditetapkan.
Dalam tes SKD berbasis Computer Assisted Test (CAT) yang digelar pada 24 Oktober 2024 di Semarang, Tri Cahyaningsih berhasil mengumpulkan nilai 476, tertinggi di formasinya.
Sayangnya, saat menjalani tes kesehatan, tinggi badannya tercatat 157,5 cm, sementara persyaratan minimal adalah 158 cm.
“Saya langsung syok. Biasanya tidak segitu. Pulang langsung nangis sepanjang jalan,” ungkap Tri dilansir Kompas, Kamis (20/2/2025).
Meskipun kecewa, ibu dua anak ini menerima hasil tersebut dengan lapang dada dan berencana mencoba lagi di kesempatan berikutnya.
“Sama keluarga ya udah ikhlas. Belum rejekinya,” ucapnya. Tri telah beberapa kali mengikuti seleksi CPNS sejak 2017 dan berharap dapat meningkatkan perekonomian keluarganya melalui profesi sebagai PNS.
Keinginannya menjadi PNS muncul sejak lama untuk meningkatkan ekonomi keluarganya. “Kalau di pabrik kan segitu aja. Sementara masa depan anak masih panjang,” tambahnya.
Netizen Sorot Psikis HRD
Kasus Tri yang gagal hanya karena tinggi badan memicu reaksi netizen di media sosial. Banyak yang mempertanyakan aturan seleksi CPNS, terutama relevansi syarat tinggi badan dalam formasi penjaga tahanan.
“Kalau nilainya tinggi, harusnya lolos dong. Tinggi badan segitu nggak ngaruh banyak buat tugas jaga tahanan,” tulis seorang netizen di Twitter. “Yang penting otaknya jalan, bukan tingginya,” komentar lainnya.
Meski aturan tersebut sudah lama diterapkan, banyak yang berharap adanya evaluasi, terutama bagi peserta yang memiliki kemampuan akademik unggul. “Kenapa tidak dibuat pengecualian bagi peserta dengan skor tertinggi?” tanya seorang pengguna media sosial.
Bahkan netizen di Instagram mempertanyakan psiksis divisi Human Resources Development (HRD) panitia penerimaan CPNS. “HRD rata-rata lulusan PSI kan ya? Itu mereka psikis nya gimana sih rekrut orang,” timpal satu akun.
Netizen soroti tradisi sistem orang dalam yang tentu akan diutamakan. “Kegeser sama titipan dan itulah Indonesia,tahun depan coba lagi di Pemda atau prov aja Mbak. Jangan di kemenkumham,” ungkap akun lainnya.
Tak Menyerah
Tri mengaku sudah beberapa kali mengikuti seleksi CPNS. Pertama kali mendaftar pada 2017, ia gagal karena kalah peringkat. Setelah absen beberapa tahun karena hamil, ia kembali mencoba pada 2024 karena batas usia maksimal peserta CPNS adalah 35 tahun.
Dengan pencapaian tertinggi dalam SKD, ia semakin termotivasi untuk kembali mencoba. “Sering latihan soal dan membaca buku. Pokoknya rutin belajar aja. Kemarin memang sudah target aja. Targetnya (skor) 450,” ujar Tri.
Ketika ditanya apakah masih ingin mencoba lagi, ia mantap menjawab, “Insyaallah ikut lagi seleksi CPNS,” lanjut Tri.
