JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Selasa, 6 Januari 2026, kembali membuat rekor baru dengan bergerak nyaris ke level 9.000, meski sempat mengalami tekanan jual sementara.
Menjelang jeda siang, IHSG menguat ke posisi 8.905, melanjutkan tren kenaikan dari penutupan Senin di 8.859 yang mencatat pertumbuhan 1,27 persen.
Kenaikan ini tercatat meski investor asing melakukan aksi jual bersih sebesar Rp9,98 miliar, dengan saham BUMI, MEDC, BBRI, EMAS, dan JPFA menjadi yang paling banyak dilepas.
Pada sesi pagi, IHSG bergerak stabil di zona hijau dari level 8.879 dan menutup sesi pertama di posisi 8.883,17.
Usai jeda siang, indeks terus menanjak menuju rekor tertinggi sepanjang sejarah, mendekati level psikologis 9.000, dengan pergerakan terkini (pukul 15.30 WIB) berada di kisaran 8.920–8.925.
Lonjakan IHSG hari ini berbeda dari prediksi analis sebelumnya.
“Hari ini IHSG berpotensi terkoreksi. Level support akan bergerak di rentang 8.780-8.800 dan level resistansi di rentang 8.880-8.900,” ujar Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman.
Sentimen positif didorong optimisme pasar global, dengan bursa AS dan Asia Pasifik menutup perdagangan Senin kemarin di zona hijau karena kenaikan harga minyak dan perkembangan geopolitik AS-Venezuela.
Investor menilai serangan AS ke Venezuela tidak memicu eskalasi lebih luas, sehingga saham energi AS meroket; Chevron naik 5,1 persen berkat eksposurnya di Venezuela yang memiliki cadangan minyak terbesar dunia.
Saham Exxon Mobil naik 2,2 persen, Halliburton melonjak 7,8 persen, dan Schlumberger (SLB) meningkat hampir 9 persen, seiring optimisme sektor energi.
Kenaikan IHSG juga didukung harga minyak mentah; West Texas Intermediate (WTI) naik 1,74 persen ke USD58,32 per barel, sedangkan Brent meningkat 1,66 persen ke USD61,76 per barel untuk kontrak pengiriman Februari dan Maret 2026.
Pasar Asia mempersiapkan diri menghadapi serangkaian data ekonomi pekan pertama tahun ini, sekaligus memantau dampak geopolitik dari penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan keputusan OPEC mempertahankan level produksi minyak.
Fanny menekankan bahwa pergerakan IHSG dan saham global akan tetap dipengaruhi harga minyak dan perkembangan geopolitik AS-Venezuela, sehingga investor disarankan waspada terhadap fluktuasi pasar.***