Bencana hidrometeorologi yang melanda Pulau Sumatera sejak akhir pekan lalu telah menewaskan setidaknya 174 orang, dengan ribuan rumah terendam, jembatan putus, dan akses transportasi terisolasi di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan korban jiwa terbanyak di Sumut (116 orang), diikuti Sumbar (23 orang) dan Aceh (35 orang), sementara 79 orang masih hilang dan 12 luka-luka.
Tiga provinsi ini telah menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari untuk percepatan bantuan. Berikut fakta-fakta dari tragedi yang dipicu Siklon Tropis Senyar ini, berdasarkan data terkini dari BNPB, BMKG, dan pemerintah daerah.
1. Penyebab Utama: Siklon Tropis Senyar, Hujan Ekstrem 300 mm/Hari
Siklon Tropis Senyar (sebelumnya Bibit Siklon 95B), yang terbentuk di Selat Malaka sejak 21 November 2025, menjadi biang kerok utama. Dengan kecepatan angin 25–35 knot (46–65 km/jam), siklon ini menarik massa udara basah dari Samudra Hindia, memicu hujan lebat hingga ekstrem (200–350 mm/hari) di pantai barat Sumatera—setara 3–4 kali normal musim hujan.
BMKG mencatat curah hujan tertinggi di Pidie Jaya (Aceh) mencapai 320 mm dalam 24 jam, melebihi ambang banjir historis 1998. Faktor pendukung: Deforestasi di DAS (Daerah Aliran Sungai) dan drainase buruk di pemukiman rawan, diperburuk La Niña lemah yang tingkatkan kelembapan 80–90%.
2. Korban dan Dampak Manusia: 174 Tewas, 79 Hilang, Ribuan Mengungsi
Hingga 28 November sore, BNPB catat 174 korban jiwa: Sumut (116 tewas, 42 hilang), Sumbar (23 tewas, 12 hilang), Aceh (35 tewas, 25 hilang). Korban luka-luka 12 orang, mayoritas tertimbun longsor atau terseret banjir bandang. Pengungsi capai 8.746 KK (keluarga), dengan Sumut paling parah (4.846 KK di 15 kabupaten/kota seperti Tapanuli Selatan dan Langkat).
Di Aceh, 20.759 jiwa mengungsi di 17 kabupaten/kota (Pidie Jaya, Aceh Utara, dll), sementara Sumbar 3.900 KK di Agam, Padang, dan Pasaman Barat. Fakta pilu: Di Tapanuli Tengah, satu keluarga lengkap (4 orang) tertimbun longsor di Sitahuis, jenazah dievakuasi dengan alat berat.

3. Kerusakan Infrastruktur: Jalan Putus 27 Titik, Jembatan Roboh, Listrik Mati Massal
Bencana ini hancurkan infrastruktur vital: 27 titik jalan provinsi tertutup longsor (termasuk Jalan Lintas Sumatera di Meureudu, Aceh, yang putus total), 4 jembatan roboh (Aek Inumon II di Sumut, Titi Cempedak di Langkat), dan 17 gardu listrik mati di Tapanuli Tengah-Utara.
Di Aceh, jalur nasional perbatasan Aceh-Sumut terisolasi, sementara Sumbar alami longsor di Padang Pariaman yang retakkan aspal hingga 50 meter. Total rumah rusak/terendam 4.294 unit, dengan kerugian ekonomi Rp2 triliun (estimasi BNPB).
Fakta unik: Di Sibolga (Sumut), banjir setinggi 3 meter bawa puing kayu hingga ke pusat kota, picu longsor sekunder.
4. Status Darurat 14 Hari: Percepatan Bantuan Rp5 Miliar per Provinsi
Tiga provinsi nyatakan tanggap darurat: Aceh (28 Nov–11 Des 2025, 16 kab/kota), Sumut (26 Nov–9 Des), Sumbar (26 Nov–8 Des). Ini memungkinkan alokasi anggaran darurat dan bantuan pusat. Gubernur Aceh Muzakir Manaf, Sumut Bobby Nasution, dan Sumbar Mahyeldi Ansharullah kerahkan tim gabungan TNI-Polri-Brimob untuk SAR.
BNPB kirim 3 pesawat Hercules bawa 3,2 ton logistik (beras, mie, tenda, genset) via Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Sumut (4 sortie NaCl & CaO). PMI siapkan 10 ton sembako & obat; Kemenimipas evakuasi tahanan & imigran di fasilitas terdampak. Prabowo instruksikan “seluruh sumber daya” untuk penanganan, dengan Menko PMK Pratikno pimpin rapat di BNPB.
5. Prakiraan BMKG: Hujan Ekstrem Berlanjut Hingga 3 Desember, Gelombang 4 Meter
BMKG peringatkan hujan sedang-lebat hingga ekstrem hingga 3 Desember 2025 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, dan Kalbar, dengan angin kencang 50–65 km/jam. Gelombang tinggi 2,5–4 meter di Selat Malaka, Samudra Hindia barat Aceh-Nias, dan perairan timur Sumut—imbau nelayan tunda berlayar.
Senyar bergerak mendekati Aceh (10 km/jam), potensi banjir susulan 70% di Tapanuli & Pidie. Fakta: Ini siklon ke-3 di barat Indonesia 2025, dipicu IOD negatif & La Niña, dengan curah hujan tahunan naik 20%.