TEL AVIV, ISRAEL – Krisis kemiskinan semakin mengancam masyarakat Israel. Hampir dua juta penduduk hidup di bawah ambang batas miskin, termasuk sekitar 880.000 anak-anak yang menghadapi risiko kerawanan pangan akut. Data resmi terbaru ini dirilis di tengah eskalasi perang di Gaza dan lonjakan biaya hidup yang memperburuk kondisi ekonomi nasional, sebagaimana dilaporkan Anadolu Agency.
Laporan Kemiskinan Israel 2024 dari Institut Asuransi Nasional (NII) mengungkapkan bahwa populasi negara tersebut telah melampaui 10 juta jiwa, dengan komunitas Palestina mencakup sekitar 21 persen. “Ada sekitar dua juta orang miskin di Israel, di antaranya sekitar 880.000 anak-anak, lebih dari satu dari empat anak di seluruh negeri,” demikian isi laporan itu.
Angka kemiskinan di kalangan anak diprediksi naik menjadi 28 persen pada tahun ini, dari 27,6 persen tahun sebelumnya. Selain itu, hampir satu juta anak mengalami ketidakstabilan pangan akibat tekanan finansial rumah tangga. Kondisi mereka terus memburuk karena dampak konflik bersenjata, inflasi tinggi, dan perlambatan pertumbuhan PDB.
Berdasarkan standar Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), NII menetapkan garis kemiskinan untuk individu sebesar 3.547 shekel (sekitar USD 1.145) per bulan. Untuk pasangan, batasnya mencapai 7.095 shekel (USD 2.290), sedangkan keluarga dengan lima anggota dianggap miskin jika penghasilan bulanan mereka kurang dari 13.303 shekel (USD 4.295).
Secara keseluruhan, tingkat kemiskinan individu hanya naik tipis dari 20,6 persen menjadi 20,7 persen dibandingkan 2023. Sementara itu, tingkat kemiskinan keluarga justru turun sedikit dari 20,2 persen menjadi 20 persen.
Di kelompok lanjut usia, sekitar 158.000 orang tercatat hidup dalam kemiskinan, angka yang melebihi rata-rata negara OECD. Israel menduduki posisi kedua tertinggi dalam kemiskinan anak di antara negara anggota OECD, hanya kalah dari Kosta Rika. Penyebab utamanya, menurut laporan tersebut, adalah minimnya alokasi anggaran publik untuk program kesejahteraan sosial, yakni hanya 16,7 persen dari PDB, jauh di bawah rata-rata OECD.
Kelompok paling rentan adalah warga Palestina dan Yahudi ultra-Ortodoks (Haredi). Sebanyak 37,6 persen keluarga Palestina dan 32,8 persen keluarga Haredi berada di bawah garis kemiskinan. Kedua komunitas ini menyumbang 65,1 persen dari total populasi miskin di Israel.
Temuan ini muncul saat Israel masih bergelut dengan konflik regional yang berkepanjangan, termasuk operasi militer di berbagai wilayah dan perang di Gaza yang membebani anggaran negara serta melemahkan stabilitas sosial-ekonomi. Para ahli mendesak pemerintah meningkatkan investasi sosial guna mencegah krisis ini memburuk lebih jauh.