JAKARTA – Sekitar 20.000 pelaut dan 15.000 penumpang kapal pesiar terjebak di Teluk akibat perang di Timur Tengah. Hal ini disampaikan Organisasi Maritim Internasional (IMO) PBB kepada AFP, Kamis (5/3/2026).
Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, menegaskan bahwa “IMO siap bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan untuk membantu memastikan keselamatan dan kesejahteraan para pelaut yang terdampak.”
Sektor maritim menetapkan Selat Hormuz, Teluk Oman, dan Teluk Persia sebagai “zona operasi perang,” guna memberikan perlindungan tambahan bagi pelaut. Sejak konflik pecah, IMO mencatat tujuh insiden kapal di kawasan tersebut, menewaskan dua orang dan melukai tujuh lainnya.
“Di luar dampak ekonomi dari serangan-serangan yang mengkhawatirkan ini, ini adalah masalah kemanusiaan. Tidak ada serangan terhadap pelaut yang tidak bersalah yang dapat dibenarkan,” ujar Dominguez, dilansir dari Hurriyet Daily News, Jumat (6/3/2026). Ia juga menyerukan perusahaan pelayaran untuk berhati-hati penuh saat beroperasi di wilayah terdampak.
Iran dilaporkan menutup Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui seperlima minyak mentah dunia dan pasokan gas alam cair. Beberapa perusahaan besar, termasuk Maersk, menangguhkan pemesanan di Teluk Persia.
Federasi Pekerja Transportasi Internasional (ITF) bersama Kelompok Negosiasi Bersama menyatakan ratusan kapal terdampar akibat terhentinya pergerakan kapal melalui Selat Hormuz. Sekjen ITF Stephen Cotton menyebut kondisi ini sebagai yang terburuk dalam 32 tahun keterlibatannya, karena ketidakjelasan diplomatik.
Cotton menekankan bahwa meski pelaut dapat meminta dipulangkan, prosesnya tidak sederhana. “Anda tidak bisa menekan sebuah tombol dan langsung meninggalkan kapal. Jika Anda memiliki kru sebanyak 25 orang, Anda mungkin membutuhkan 16 orang untuk mengoperasikan kapal dengan aman,” katanya.
Pada 4 Maret, Garda Revolusi Iran mengklaim “kendali penuh” atas Selat Hormuz, dengan laporan tambahan kapal yang diserang. Perusahaan intelijen energi Kpler mencatat transit kapal tanker minyak turun 90 persen dibandingkan pekan sebelumnya.
Selain Teluk, sektor maritim juga menetapkan Laut Azov, Laut Hitam bagian utara, Laut Merah bagian selatan, dan Teluk Aden sebagai “Area Operasi Perang.”