BANDUNG BARAT – Sebanyak 200 personel Korps Marinir diterjunkan untuk mempercepat pencarian dan evakuasi korban longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Operasi hari keempat ini diperkuat teknologi drone, thermal imaging, dan anjing pelacak untuk menyisir medan pegunungan yang sulit.
Operasi ini difokuskan pada 19 prajurit Marinir yang masih hilang setelah tertimbun material longsor pada Sabtu (24/1/2026) dini hari. Hingga Senin (26/1/2026), empat prajurit telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, menyisakan 19 lainnya yang menjadi prioritas utama tim evakuasi.
Longsor tersebut juga menewaskan puluhan warga sipil dan menimbun puluhan rumah di kawasan itu, dengan total evakuasi jenazah mencapai puluhan kantong jenazah oleh tim SAR gabungan Basarnas dan instansi terkait.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Tunggul menegaskan komitmen TNI AL dalam mempercepat proses pencarian meski menghadapi kendala cuaca buruk dan akses jalan sempit yang menyulitkan masuknya alat berat.
“Kami menerjunkan sebanyak 200 personel Marinir dengan menggunakan teknologi drone, thermal imaging, dan anjing pelacak,” ujar Tunggul dalam keterangan resminya, Selasa (27/1/2026).
Teknologi drone digunakan untuk memetakan area longsor secara akurat dari udara dan mengidentifikasi titik-titik potensial korban tertimbun. Thermal imaging memungkinkan deteksi panas tubuh di bawah lapisan tanah dan puing, sementara anjing pelacak yang terlatih khusus mampu mencium bau manusia di medan ekstrem.
Kombinasi ini menjadi andalan utama karena alat berat belum dapat beroperasi optimal di lokasi akibat hujan susulan dan kondisi medan yang berbahaya.
Para prajurit Marinir yang menjadi korban diketahui sedang menjalani latihan pratugas Satgas Pengamanan Perbatasan RI–Papua Nugini.
Lokasi Cisarua dipilih karena medan hutan dan pegunungannya mirip dengan wilayah operasional perbatasan. Namun, hujan deras selama hampir dua malam memicu longsor besar yang menimpa area latihan sekaligus permukiman warga.
TNI AL terus berkoordinasi dengan Basarnas, BPBD Kabupaten Bandung Barat, Polri, dan relawan lokal dalam operasi gabungan. Pemerintah daerah telah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana hingga 6 Februari 2026 untuk mendukung penanganan menyeluruh, termasuk pendataan korban sipil dan militer secara terpisah.
Tragedi ini menekankan pentingnya integrasi teknologi modern dalam operasi SAR militer di wilayah rawan bencana alam.
Tim evakuasi tetap bekerja tanpa lelah di tengah cuaca yang tidak menentu, dengan harapan menemukan seluruh korban secepat mungkin untuk memberikan kepastian bagi keluarga yang menanti.
Ikuti pembaruan terkini operasi SAR longsor Cisarua, pengerahan Marinir TNI AL, serta penggunaan drone dan thermal imaging dalam evakuasi korban militer melalui kanal berita pertahanan dan militer terpercaya.
