JATENG – Dalam upaya mempercepat pemulihan wilayah terdampak banjir bandang dahsyat pada akhir November 2025, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mengerahkan 283 taruna tingkat akhir Akademi Kepolisian (Akpol). Mereka tergabung dalam Batalyon Ksatriya Hawin Sarwahita dan resmi diberangkatkan untuk mengikuti Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara (Latsitarda Nusantara) XLVI Tahun 2026 dengan fokus utama di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.
Kegiatan ini melibatkan total 1.456 taruna dan kadet dari berbagai lembaga pendidikan kedinasan, antara lain Akademi Militer (Akmil), Akademi Angkatan Laut (AAL), Akademi Angkatan Udara (AAU), Politeknik Siber dan Sandi Negara (Poltek SSN), serta Universitas Pertahanan (Unhan). Para peserta akan melaksanakan pengabdian kepada masyarakat selama sekitar satu bulan, mulai 17 Januari hingga 17 Februari 2026, di wilayah pascabencana di Pulau Sumatera.
Pengerahan taruna Akpol ini menjadi wujud nyata komitmen Polri sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat, sekaligus mendukung upaya rehabilitasi dan rekonstruksi daerah yang masih bergulat dengan dampak psikologis dan fisik pascabanjir bandang.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divhumas Polri, Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko, menekankan pentingnya kehadiran langsung Polri di tengah masyarakat.
“Keikutsertaan 283 Taruna Akpol dalam Latsitarda Nusantara XLVI Tahun 2026 ini merupakan bentuk kontribusi nyata Polri dalam membantu masyarakat yang sedang bangkit dari dampak bencana. Para taruna akan terjun langsung membantu kegiatan pemulihan di Aceh Tamiang sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat,” ujar Brigjen Pol Trunoyudo.
Ia menambahkan, program ini juga menjadi sarana pembentukan karakter bagi calon perwira Polri.
“Melalui kegiatan ini, para taruna tidak hanya mendapatkan pengalaman teknis, tetapi juga belajar membangun empati, kepedulian, dan semangat melayani masyarakat. Inilah nilai-nilai utama yang ingin ditanamkan kepada calon pemimpin Polri di masa depan,” tambahnya.
Di lapangan, taruna Akpol akan terlibat dalam berbagai kegiatan kemanusiaan yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Kegiatan tersebut meliputi trauma healing bagi anak-anak dan warga yang mengalami gangguan psikologis akibat bencana, pembersihan lingkungan permukiman, serta rehabilitasi fasilitas umum seperti tempat ibadah, sekolah, infrastruktur, dan kantor kepolisian yang rusak akibat banjir.
“Mereka akan terlibat dalam kegiatan trauma healing untuk memulihkan kondisi psikologis masyarakat, khususnya anak-anak. Selain itu, para taruna juga akan membantu membersihkan dan memperbaiki tempat ibadah, fasilitas pendidikan, serta infrastruktur lainnya, termasuk kantor-kantor kepolisian yang terdampak banjir agar dapat kembali melayani kebutuhan masyarakat,” jelas Brigjen Pol Trunoyudo.
Ia berharap kehadiran para taruna dapat mempercepat normalisasi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Aceh Tamiang.
“Peran aktif para taruna ini diharapkan dapat meringankan beban masyarakat sekaligus mempercepat pemulihan aktivitas sosial ekonomi pascabencana. Ini adalah wujud nyata bakti Polri untuk negeri,” lanjutnya.
Pemberangkatan para taruna diawali dengan Upacara Pembukaan dan Pembentukan Satuan Tugas Taruna (Satgastar) Latsitarda Nusantara XLVI Tahun 2026. Upacara dipimpin oleh Danjen Akademi TNI Letjen TNI R. Sidharta Wisnu Graha di Dermaga Samudera II Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, pada Sabtu, 17 Januari 2026. Upacara tersebut dihadiri pejabat utama Mabes TNI dan Mabes Polri, pimpinan lembaga kedinasan, serta pejabat TNI-Polri Jawa Tengah, termasuk Wakapolda Jawa Tengah.
Usai upacara, para taruna diberangkatkan menggunakan tiga Kapal Perang Republik Indonesia (KRI), yaitu KRI Banda Aceh-593, KRI Teluk Calang-524, dan KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992. Ketiga kapal bertolak sekitar pukul 16.00 WIB menuju Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara, sebelum melanjutkan perjalanan ke Aceh Tamiang.
Melalui Latsitarda Nusantara XLVI Tahun 2026 ini, Polri berharap para taruna Akpol tidak hanya memberikan kontribusi nyata bagi pemulihan masyarakat terdampak banjir bandang, tetapi juga memperkuat soliditas dan kemanunggalan Polri dengan rakyat di tengah upaya bangkit dari musibah besar yang masih membekas hingga kini.