JAKARTA – Tanggal 3 Januari menyimpan catatan penting dalam sejarah dunia dan Indonesia. Beragam peristiwa bersejarah terjadi pada hari ini, mulai dari pertempuran heroik, pembentukan institusi negara, hingga wafatnya tokoh nasional. Berikut rangkuman peristiwa penting yang menandai 3 Januari, mencerminkan perjuangan kemerdekaan dan ketahanan bangsa.
1. Pertempuran Princeton (1777), Kemenangan George Washington dalam Revolusi Amerika
Pada 3 Januari 1777, pasukan Continental Army di bawah komando Jenderal George Washington meraih kemenangan krusial atas pasukan Britania dalam Pertempuran Princeton, New Jersey, Amerika Serikat.
Pertempuran ini terjadi sepekan setelah kemenangan di Trenton, ketika Washington memimpin serangan mendadak dengan menyeberangi Sungai Delaware. Pasukan Britania yang dipimpin Charles Cornwallis sempat melakukan pengejaran, namun pasukan Amerika membakar jembatan untuk menghambat laju musuh dan melancarkan serangan balik.
Sekitar 200 tentara Britania tewas, sementara ratusan lainnya terluka atau ditangkap. Di pihak Amerika, korban relatif kecil. Kemenangan ini secara signifikan meningkatkan moral pasukan revolusioner dan membuktikan kemampuan mereka menghadapi kekuatan kolonial Inggris.
2. Wafatnya Nani Wartabone, Pahlawan Nasional dari Gorontalo (1986)
Tokoh perjuangan asal Gorontalo, Nani Wartabone, wafat pada 3 Januari 1986 saat azan Jumat berkumandang. Ia lahir pada 30 Januari 1907 dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 085/TK Tahun 2003.
Sejak muda, Nani aktif melawan kolonialisme. Ia mendirikan Jong Gorontalo di Surabaya pada 1923, membentuk perkumpulan tani untuk menumbuhkan nasionalisme, menjabat Ketua PNI Cabang Gorontalo, serta membuka cabang Partindo. Ia juga pernah menjabat sebagai Residen Sulawesi Utara di Gorontalo dan menjadi anggota DPRGR.
Sebagai bentuk penghormatan, Tugu Nani Wartabone didirikan di Lapangan Taruna Remaja, tepat di depan Rumah Dinas Gubernur Gorontalo.
3. Pembentukan Kementerian Agama Republik Indonesia (1946)
Pada 3 Januari 1946, Kementerian Agama Republik Indonesia, yang sebelumnya bernama Departemen Agama, resmi dibentuk. Gagasan pembentukan kementerian ini pertama kali diusulkan oleh Muhammad Yamin dalam sidang BPUPKI pada 11 Juli 1945, meski belum mendapat sambutan luas.
Usulan tersebut kembali mengemuka dalam sidang PPKI pada 19 Agustus 1945 dan sidang BP-KNIP pada November 1945, hingga akhirnya disetujui oleh Presiden Soekarno. Haji Mohammad Rasjidi kemudian diangkat sebagai Menteri Agama pertama.
Pembentukan Kementerian Agama menjadi tonggak penting dalam menjamin kebebasan beragama sesuai dengan Pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945.
4. Pemindahan Ibu Kota dari Jakarta ke Yogyakarta (1946)
Di tengah kondisi keamanan Jakarta yang memburuk akibat pendaratan pasukan Sekutu (AFNEI) yang diboncengi Belanda (NICA), Presiden Soekarno memutuskan memindahkan ibu kota negara ke Yogyakarta pada 3 Januari 1946.
Situasi Jakarta saat itu ditandai dengan razia, penangkapan, penjarahan, serta ancaman penculikan terhadap Presiden dan pejabat tinggi negara. Pada 2 Januari 1946, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Pakualam VIII menawarkan jaminan keamanan apabila pemerintahan dipindahkan ke Yogyakarta.
Soekarno menyetujui usulan tersebut, dan rombongan pemerintah berangkat secara rahasia menggunakan kereta api pada malam hari. Mereka tiba dengan selamat di Yogyakarta pada 4 Januari 1946 dan disambut oleh Sultan, Pakualam, Jenderal Soedirman, para pejabat, serta masyarakat setempat. Rombongan kemudian diarak melalui Jalan Malioboro menuju Gedung Agung.
Sementara itu, keamanan Jakarta diserahkan kepada Letnan Kolonel Daan Jahja yang juga menjabat sebagai Gubernur Militer Kota Jakarta.
Peristiwa-peristiwa pada 3 Januari tidak hanya menandai momen penting dalam sejarah dunia, tetapi juga menjadi titik krusial bagi Indonesia dalam menjaga kelangsungan pemerintahan pada masa awal kemerdekaan. Catatan sejarah ini mengingatkan akan pentingnya perjuangan, keteguhan, dan kemampuan beradaptasi dalam menghadapi tantangan zaman.