JAKARTA – Fenomena Gerhana Bulan Total pada 3 Maret 2026 menjadi salah satu peristiwa astronomi paling dinanti tahun ini. Dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, total lunar eclipse ini diprediksi dapat diamati dengan jelas pada malam hari waktu setempat.
Gerhana Bulan adalah peristiwa saat posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus, sehingga Bulan masuk ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi dan tampak meredup atau berubah warna menjadi merah, yang sering disebut sebagai blood moon.
Namun, menariknya fenomena Gerhana Bulan 3 Maret 2026 ini juga membuka perbincangan tentang perbedaan antara hisab dengan rukyat, khususnya yang sering dibahas terkait hilal dalam penentuan awal bulan Hijriah.
Hisab: Perhitungan Akurat Posisi Bulan dan Matahari
Hisab berasal dari kata Arab yang berarti perhitungan, dan dalam konteks astronomi atau falak, hisab adalah metode matematis untuk menghitung posisi-posisi benda langit berdasarkan hukum gerak orbital dan data numerik yang akurat.
Itulah sebabnya fenomena gerhana seperti Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 dapat diprediksi dengan sangat akurat, jauh hari sebelum tanggalnya tiba. Perhitungan ini mempertimbangkan data seperti orbit Bulan, posisi Matahari dan Bumi, serta nilai-nilai astronomis yang telah diketahui selama bertahun-tahun, sehingga seluruh fase gerhana bisa ditentukan secara presisi.
Contohnya, menurut catatan astronomi internasional:
• Totalitas gerhana berlangsung sekitar 58 menit 19 detik pada 3 Maret 2026.
• Seluruh fase dari penumbra hingga akhir gerhana berlangsung ratusan menit.
Karena peristiwa ini melibatkan posisi geometris ketiga benda langit (Bumi, Bulan, Matahari) yang saling terkait secara deterministik, hisab cukup untuk menghitung kapan dan di mana gerhana akan terjadi.
Rukyat: Observasi Visual yang Masih Dipakai untuk Hilal
Sementara hisab begitu kuat untuk fenomena seperti gerhana, mengenai hilal untuk menentukan awal bulan Hijriah, praktik rukyat atau pengamatan visual tetap menjadi metode utama di banyak komunitas Islam termasuk di Indonesia.
Rukyat hilal berarti melihat secara langsung hilal atau sabit tipis pertama bulan baru di ufuk barat setelah matahari terbenam. Metode ini dibutuhkan karena dalam tradisi keagamaan tertentu, bukti visual hilal dianggap sebagai tanda sahnya awal bulan.
Bahkan pada sidang isbat penentuan awal Ramadan 1447 H, pemerintah Indonesia menggunakan kombinasi antara data hisab dan hasil pengamatan rukyat untuk memastikan apakah hilal terlihat, sebelum menetapkan awal bulan puasa.
Alasan umat Islam tetap mengandalkan rukyat meskipun hisab sebetulnya bisa memprediksi posisi hilal adalah karena rukyat dianggap sebagai konfirmasi empiris. Artinya, posisi hilal dihitung dulu (hisab), lalu hasil perhitungan itu diuji melalui observasi nyata di langit. Jika hilal benar-benar terlihat meskipun hanya dengan bantuan teleskop atau alat optik maka penetapan awal bulan bisa dilakukan berdasarkan bukti visual tersebut.
Mengapa Hisab Tidak Selalu Cukup untuk Hilal?
-
Perbedaan Kriteria
Kriteria visibilitas hilal bervariasi antar komunitas Islam; ada yang mewajibkan hilal terlihat dengan mata telanjang, ada pula yang menerima secara optik atau teleskop. Variasi kriteria ini membuat hisab saja tidak selalu dianggap cukup tanpa pengamatan riil. -
Ketergantungan pada Kondisi Langit
Hilal bisa saja secara hisab berada di atas ufuk, tetapi cuaca mendung atau polusi cahaya membuatnya sulit terlihat. Karena itu, rukyat tetap digunakan sebagai verifikasi observasional. -
Nilai Tradisi dan Hukum Keagamaan
Beberapa ulama dan komunitas tetap memegang pentingnya bukti visual sesuai tradisi, sehingga rukyat dianggap lebih lengkap dibandingkan perhitungan semata.
Bagaimana Gerhana dan Hilal Berbeda?
Meskipun gerhana dan hilal sama-sama berkaitan dengan posisi Bulan dalam orbitnya, ada perbedaan mendasar:
-
Gerhana Bulan diprediksi dan terjadi pada kondisi purnama saat Bulan masuk bayangan Bumi. Ini bersifat astronomis dan deterministik sehingga bisa dihisab secara akurat jauh hari sebelumnya.
-
Hilal, sebagai tanda awal bulan Hijriah, meskipun juga bisa dihisab posisinya, dibutuhkan verifikasi visual (rukyat) di banyak komunitas Muslim untuk memenuhi syarat syar’i atau hukum tradisional.
Dengan demikian, gerhana bisa dihitung secara akurat melalui hisab, tetapi hilal tetap dirukyat karena keterkaitan tradisi, nilai keagamaan, dan kriteria visibilitasnya.
Bagaimana Gerhana dan Hilal Berbeda?
Meskipun gerhana dan hilal sama-sama berkaitan dengan posisi Bulan dalam orbitnya, ada perbedaan mendasar:
-
Gerhana Bulan diprediksi dan terjadi pada kondisi purnama saat Bulan masuk bayangan Bumi. Ini bersifat astronomis dan deterministik sehingga bisa dihisab secara akurat jauh hari sebelumnya.
-
Hilal, sebagai tanda awal bulan Hijriah, meskipun juga bisa dihisab posisinya, dibutuhkan verifikasi visual (rukyat) di banyak komunitas Muslim untuk memenuhi syarat syar’i atau hukum tradisional.
Dengan demikian, gerhana bisa dihitung secara akurat melalui hisab, tetapi hilal tetap dirukyat karena keterkaitan tradisi, nilai keagamaan, dan kriteria visibilitasnya.