Hikmah di balik makan sahur tidak hanya sekadar memberikan energi untuk menjalani puasa, tetapi juga merupakan amalan sunnah yang penuh keberkahan.
Sebagai bulan paling mulia bagi umat muslim, Ramadan memiliki berbagai ibadah yang tidak ditemukan di bulan lain, salah satunya adalah anjuran makan sahur.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda, yang bunyinya:
وعن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: السَّحورُ أُكْلةُ بَرَكةٍ، فلا تَدَعوه، ولو أنْ يَجرَعَ أَحَدُكم جُرْعةً من ماءٍ؛ فإنَّ اللهَ وملائكتَه يُصلُّونَ على المُتَسَحِّرينَ.
Artinya: “Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Sahur sepenuhnya mengandung berkah. Maka itu, jangan kalian meninggalkannya meskipun kalian hanya meminum seteguk air karena Allah dan malaikat bershalawat untuk mereka yang bersahur,’” (HR Ahmad).
Di balik kebiasaan sahur yang sederhana, terdapat banyak hikmah yang bisa diambil.
Deretan Hikmah di Balik Makan Sahur
Makan sahur bukan sekadar mengisi energi sebelum berpuasa, tetapi juga memiliki berbagai keutamaan yang penuh berkah.
Hikmah di balik makan sahur tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga memberikan nilai spiritual yang tinggi.
Dilansir dari NU Online, berikut beberapa hikmah makan sahur yang menjadikannya amalan penting di bulan Ramadan.
1. Wujud Kasih Sayang dalam Islam
Salah satu hikmah di balik makan sahur adalah sebagai bentuk kasih sayang Islam kepada umatnya.
Sahur memberikan tambahan stamina bagi mereka yang berpuasa, terutama bagi yang menjalani aktivitas berat di siang hari. Tanpa sahur, tubuh bisa menjadi lemah, terutama bagi mereka yang jarang menjalankan puasa sunnah.
Dengan adanya anjuran sahur, umat Islam diberikan kemudahan untuk menjalankan ibadah puasa dengan lebih ringan.
2. Waktu Mustajab untuk Beribadah
Hikmah di balik makan sahur lainnya adalah kesempatan untuk beribadah di waktu yang mustajab.
Mereka yang bangun untuk sahur bisa sekaligus melaksanakan ibadah tambahan, seperti shalat tahajud dan berdzikir.
Selain itu, orang yang sahur juga lebih berpeluang menjalankan shalat Subuh tepat waktu, terutama jika tidak kembali tidur setelah makan.
Dalam kitab Sahih-nya, Imam al-Bukhari bahkan mencatat hadits-hadits yang menganjurkan untuk tetap terjaga hingga waktu Subuh tiba setelah sahur.
3. Terbebas dari Hisab
Salah satu keberkahan makan sahur adalah makanan yang dikonsumsi pada waktu ini tidak akan dihisab di akhirat.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa ada tiga jenis makanan yang tidak akan diperhitungkan di hari kiamat, yaitu makanan sahur, makanan saat berbuka, dan makanan yang dinikmati bersama saudara seiman.
ثَلَاثَةٌ لَا يُحَاسَبُ عَلَيْهَا العَبْدُ أَكَلَةُ السَّحُوْرِ وَمَا أَفْطَرَ عَلَيْهِ وَالأَكْلُ مَعَ الإِخْوَانِ
Artinya: “Ada tiga hal (makanan) di mana seorang hamba tidak akan dihisab oleh Allah swt, yaitu makanan sahur, makanan saat berbuka puasa, dan makanan yang dinikmati bersama saudara-saudara yang lain.” (HR al-Azdra’i)
Hal ini menunjukkan betapa besar hikmah di balik makan sahur bagi umat Islam.
4. Keistimewaan Umat Islam
Hikmah di balik makan sahur juga terlihat dari statusnya sebagai keistimewaan bagi umat Islam.
Meskipun puasa juga dilakukan oleh umat Yahudi dan Nasrani, anjuran makan sahur hanya diperuntukkan bagi umat Nabi Muhammad saw.
Rasulullah saw dalam haditsnya menyatakan bahwa sahur adalah pembeda antara puasa umat Islam dengan puasa Ahli Kitab.
فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ، أَكْلَةُ السَّحَرِ
Artinya: “Yang membedakan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur”. (HR Muslim).
Ini menegaskan bahwa sahur bukan sekadar kebiasaan, tetapi juga bagian dari identitas ibadah puasa dalam Islam.
Makan sahur tidak hanya memberikan manfaat fisik, tetapi juga menjadi ibadah yang penuh keberkahan.
Oleh karena itu, jangan sampai melewatkan sahur, meskipun hanya dengan seteguk air dan sebutir kurma.