Sebanyak puluhan ton bantuan logistik untuk korban banjir bandang di Kabupaten Bireuen ditemukan masih menumpuk di gudang BBPBD Bireuen, meski bencana telah berlalu 47 hari sejak terjadi pada akhir November 2025. Fakta tersebut terungkap setelah DPRK Bireuen melakukan inspeksi mendadak (sidak) pada Senin (12/1/2026).
Sidak yang dipimpin Wakil Ketua DPRK Bireuen, Surya Dharma, mendapati dua gudang BPBD di Desa Blang Bladeh, Kecamatan Jeumpa, dipenuhi berbagai bantuan. Mulai dari beras, mi instan, air mineral, kasur, hingga peralatan kerja seperti cangkul, sekrup, dan gerobak dorong tampak masih tersimpan rapat, nyaris tanpa ruang kosong.
Sebaliknya, gudang Dinas Sosial yang berada bersebelahan justru hampir kosong karena seluruh bantuan telah disalurkan ke masyarakat.
“Kami menemukan sisa bantuan untuk korban banjir dan tanah longsor masih menumpuk di dua gudang BPBD,” ujar Surya Dharma kepada wartawan, Selasa (13/1/2026).
Temuan ini kontras dengan kondisi di lapangan. Ribuan rumah warga di Kecamatan Kuta Blang, Peusangan, Peusangan Siblah Krueng, hingga Kecamatan Juli masih tertutup lumpur setebal 50 sentimeter hingga dua meter.
Warga mengaku sangat membutuhkan peralatan kerja untuk membersihkan rumah, namun tak mampu membelinya karena kondisi ekonomi yang belum pulih pascabencana.
Pelaksana Tugas Kepala BPBD Bireuen, Doli Mardian, berdalih bahwa distribusi bantuan di lapangan dinilai sudah mencukupi dan sisa logistik direncanakan akan disalurkan menjelang Ramadan. Alasan ini justru memicu gelombang kritik dari masyarakat.
“Tidak masuk akal. Logistik seharusnya disalurkan segera, bukan menunggu Ramadan. Saat itu seharusnya rumah warga sudah bersih dari lumpur,” tegas Suryadi, tokoh masyarakat Bireuen.
Ismail, salah satu korban banjir di Kecamatan Kuta Blang, juga mengkhawatirkan risiko kerusakan dan kedaluwarsa bantuan. “Menyimpan bantuan dengan alasan stok Ramadan itu hanya pembenaran. Yang dibutuhkan warga adalah sekarang,” ujarnya.
Menanggapi sorotan publik tersebut, sekitar seratus personel BPBD dan petugas pemadam kebakaran menggelar aksi unjuk rasa di halaman Kantor DPRK Bireuen pada Selasa (13/1/2026). Mereka menilai sidak tersebut telah mencoreng nama baik institusi dan menimbulkan kesan seolah terjadi penimbunan bantuan.
“Kami menolak tudingan penimbunan. Semua logistik dikeluarkan sesuai prosedur dan berdasarkan permintaan resmi dari camat,” kata Taufik, perwakilan petugas BPBD, dalam orasinya.
Meski demikian, DPRK Bireuen tetap mendesak agar seluruh sisa bantuan segera didistribusikan secara merata, terutama ke wilayah terpencil dan terisolasi seperti Desa Salah Sirong Jaya, Alue Limeng, dan Dusun Bivak.
Banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada 26–27 November 2025 lalu diketahui telah menelan ratusan korban jiwa dan berdampak pada hampir dua juta warga di Aceh.